


Blog yang menyajikan karya serta inspirasiku.
Halusinasi Negatif
“Oh!” aku tak sanggup menahan suara. Dada menyesak, menggumpal menyumbat kerongkongan. Oh! Air tubuhku seolah pecah. Mengalir melalui pupil, tembus rongga hidung lalu jatuh di bibir. Aduh… anak satu-satunya, hartaku ini mati. Tuhan, kami baru dekat, dia masih sangat lucu. Kenapa tidak saja aku...
Dunia seketika dirasa gelap. Tak berbeda seperti kebiasaannya menyuntikkan putaw ke urat kepala. Sarafnya mengejang lalu tumbang. Ramai pelayat yang datang kemudian sibuk mengangkat. Rambut gondrong ikalnya tergerai terjuntai ke bawah ketika tubuh kerempeng itu diangkat. Marni, istrinya hanya bisa menatap nanar. Matanya merah mengkilap menggenang air. Urat-urat halus memecah retina menembus kebencian terselubung di dadanya.
“Biarkan dia mati bersama anakku. Dia maunya begitu..!”
Marni berteriak. Tangannya mengejang dipegangi ibu-ibu tetangga yang melayat. Dia tetap teriak. Keras makin mengencang. Tidak dia dengar nasehat tetangga kalau kematian anaknya sebuah takdir. Tidak dihiraukan semua ocehan yang masuk ke telinga. Gendang didalamnya menolak. Yang dia tahu kematian anak lelakinya itu semata bukan takdir, bukan pula cobaan. Itu semua karena Bujang.
“Dia sudah tahu anaknya sakit. Yang ia beli bukan obat anaknya. Dasar setan, yang dibelinya malah obat setan. Dasar setan kau Bujang…!”
Marni berteriak bak melolong. Tubuhnya kini menggelepar di lantai. Kerabatnya menangis. Dia macam kerasukan. Berkali-kali kata sabar serta saran beristighfar terucap untuknya. Marni hanya diam. Matanya memutih menatap atap rumah tanpa penghalang.
***
Di malam kematian anaknya. Rumah Bujang sepi. Hanya satu dua tetangga nampak memindahkan bangku plastik dari halaman ditumpuk di teras. Angin bertiup sepoi menurun-naikkan terpal plastik warna biru. Tali nilonnya berketepuk mengencang mengikut arah terpal.
Sore tadi, ruangan rumah sempit di rumah itu ramai orang. Banyak warga yang datang melayat sekaligus membantu mengusung keranda. Anak Bujang dikebumikan di pemakaman umum. Kendati hujan, pengantar tetap setia saja. Marni berdiri di tepian kubur memegangi paying. Kakinya lemah menopang tubuh. Sesekali dia mendekap pundak kakaknya yang berdiri di sebelah. “Anakku…!” katanya menangis.
Lalu dimana Bujang? Dia tidak nampak di antara para warga yang berdiri mengelilingi lubang. Dia pula tidak berada di antara orang-orang berkopiah mengebaskan cangkul memasukkan tanah becek dalam kubur.
“Bujang tidak ikut. Dia da di rumah.” Bisik salah seorang di deretan belakang pengantar jenazah.
Apa yang terjadi sore itu masih diingat Marni. Dia duduk di dalam rumah. Kaki kirinya tersimpuh ditindih kaki sebelah ke arah belakang. Sapu tangan berkali-kali ia seka ke pipi terkadang mengais hidung. Ia masih menangis. Sejak anaknya mati, air itu tidak kering. Terus mengucur keluar dari mata. Di sampingnya, seorang wanita mulai renta tak banyak bicara. Tangannya tak henti mengusap bahu Marni yang mengejang karena dia membungkukkan badan. Emaknya itu turut larut dalam kesedihan.
Setengah jam lalu rumah mereka ramai didatangi tetangga. Surah Yasin dilanjutkan wirid berkumandang. Doa bagi anak dipanjatkan. Semoga yang ditinggalkan diberikan kesabaran tak lupa pula dipintakan. Menjelang Isya, para tetangga meninggalkan pergi satu per satu. “Yang sabar.” Itu kata mereka sebelum ke arah pintu keluar.
Di kamar, Bujang hanya sendiri. Orang-orang lebih berperhatian lebih kepada Marni. Tapi dia tidak peduli. Entah sudah berapa lama dia terduduk di tepian dipan kayu jati yang menjadi saksi malam pengantin. Pandangannya lurus. Tak peduli nyamuk merongrong betis. Tak dihirau pakaiannya bau apek bekas keringat. Bujang larut dalam fantasi. Dia tertawa bergelak. Tubunya seketika dirasa ringan. Sehat benar dirasanya ia saat itu. Dua tombak di hadapan, sekelebat dia melihat anaknya muncul kemudian tersenyum. “O.. kamu tidak mati nak. Kamu hidup lagi.” Bujang balas memberikan senyum. Tangan anak lelakinya yang lembut, lekas dia pegang lalu diayun. Mereka berdua menari diring tetabuhan musik melayu.
“Ayo kita bermain nak. Nanti ibumu menyusul.” Bujang lalu mencipta tarian melingkar. Mulutnya meracau mengucap entah nyanyian apa. Kakinya sedikit demi sedikit diarahkan ke pintu kamar. Bahunya kemudian mendorong pintu berdaun dua. Seketika terang. Tubuh menari mereka membentuk siluet terkena pancaran. Bujang kian kencang membentuk putaran. Kakinya kuat menghentak menapak rumput hijau. Burung berkicau menyambut riang. Embun menetes dari dahan lalu jatuh di genangan kolam. Alam raya kala itu begitu bersih. Langit cerah membiru diselang awan putih. Udara begitu lancar menembus hidung lalu menyeka paru-paru. Mereka berguling di hampar rumput luas. Tubuh Bujang merebah, mengangkat tubuh kecil sang anak. Wajah mereka berhadapan. Dengan senyuman, Pipi halus anaknya kemudian dikecup lembut. Begitu tenang, riang hati Bujang. Tak tahu ia kapan senja
***
Bulan kian merambat ke atas menggeser waktu malam. Cahayanya menembus dahan membuat bayang pepohonan membias ke atap rumah. Tak ada suara tapak kaki di sepanjang jalur jalan. Jangkrik kian riang bersenandung malam. Rumah Bujang begitu sunyi. Suara tangis pilu dari bibir Marni masih terdengar menyayat dari dalam.
Malam lengang membosankan itu lalu pecah dengan suara wanita serak parau.
“Marni, coba engkau tengok Si Bujang. Dia tertawa-tawa sendiri. Lekaslah.”
Marni Cuma diam mendengar perkataan emaknya. Posisinya tetap semula. Ia hanya menoleh sekjap lalu menangis lagi.
“Biarkan saja mak. Dia sering seperti itu.”
“Eh.. cobalah kau tengok sebentar. Tertawanya aneh. Lekaslah, cepat.”
Marni mengikut saja ketika jemari keriput emaknya mencengkram lengan mengajaknya ke arah kamar. Malas sebetulnya ia. Tapi apa daya, yang memerintah adalah pemilik surga ditelapak kaki. Marni dipaksa beranjak setengah diseret. Di depan pintu, cepat tangan emaknya menyingkap gorden.
“Itu, coba kau lihat.”
Mata Marni dibelalakan masuk ke kamar. Di keremangan, duami dilihat menari. “
***
Bujang masih asik mahsyuk bergelut dengan anaknya. Bibirnya nakal menjorok pipi bahkan ketiak putra satu-satunya itu. Ia begitu sebahagia anaknya. Tapi, tiba-tiba Bujang menyaksikan perubahan suasana. Rumput yang menghijau berubah coklat. Pepohonan, sura gemercik air, lenyap. Langit yang biru seketika gelap. Anaknya segera bangkit kemudian pergi dan hilang di balik gelap itu.
Bujang langsung bangkit menyibak rambut panjangnya. Bulu menutupi bibir diseka.
“
“Apa kau tidak sadar dengan ucapanmu. Anak kita mati, lalu kau bilang bahagia. Dasar setan!” Marni membalas. Dia benar-benar marah dengan perkataan Bujang.
“Iya, kau perusak. Siapa bilang anak kita mati. Tidakkah kau lihat aku tadi sedang bermain dengan anak kita. Karena kalianlah dia jadi pergi.”
“Memang kamu sudah gila.”
“Ahk, sudahlah. Keluar saja kalian. Aku mau main dengan anakku lagi.”
Dua tubuh wanita di hadapannya didorong keluar. Dengan cepat dan kasarnya Bujang meraih pintu lalu menguncinya. Kembali dia bersenandung menari. Sementara Marni, wanita itu kembali menangis. Di balik pintu ia mengusap batinnya yang nyeri.
***
Matahari masih seperempatan mata ketika terdengar suara gaduh dari dalam rumah. Orang-orang ramai. Dari yang besar sampai yang kecil beradu kepala di jendela. Wajah mereka dinampak jelas penasaran ingin menyaksikan suara siapa yang mengerang-erang dari dalam.
Di dalam rumah tak kalah pula sesaknya. Rata-rata perangkat warga ada. Pak RT, Pak RW berada di dalam. Begitu pula orang-orang surau. Mereka yang datang belakangan menyaksikan tubuh Bujang dipegang empat sampai
“Dari tadi malam dia begini.” Ujar Marni menjawab pertanyaan si dukun.
Si dukun itu manggut tetap komat-kamit. Diambilnya air putih segelas kemudian dimasukkan ke mulut. Air itu dikumur-kumur. Ia berdiri.
“Puih. Pergi kau dari sini. Pergilah ke alammu. Kau datang sendiri, maka pergilah sendiri,”
Tiga kali dukun itu menyemprotkan air dari mulutnya. Tangannya cekatan mengusap wajah Bujang yang basah oleh air jampi-jampinya. Bujang tetap saja demikian. Dia tertawa sejadi-jadinya. Tenaganya bahkan makin terhimpun setelah itu. Dua pria yang memegang lengannya di ayun terpental. Dukun mundur ke belakang.
“Saya menyerah. Roh yang merasuki Bujang sangat kuat. Umurnya sudah tua.”
Dukun itu lalu tak berani lagi menatap mata Bujang yang memelototinya. Dia pamit pergi. Sementara orang-orang surau yang diundang datang hanya dapat mengusap dada.
“Bagaimana ini Pak RT. Apalagi yang harus kita perbuat.”
Marni panik. Apalagi sudah tak ada lagi warga yang sanggup dan mau menenangkan Bujang yang masih saja berjingkrak menari tarian zapin.
“Kalian gila menganggap aku gila. Anakku masih hidup. Ini, lihatlah. Dia senang bermain denganku.”
Bujang kembali menari. Tidak dihiraukannya Pak RT berbisik-bisik ke telinga isterinya. Tak lama kemudian Pak RT keluar. Sekejap lalu enam pemuda bertubuh besar masuk. Tangan kekar mereka melipat kaki dan tangan Bujang hingga tak mampu lagi bergerak. Yang dipelasah pun lemas kemudian dibopong ke dalam mobil.
***
“Ke mana aku ini kalian bawa. Di sini tidak nyaman. Aku mau bermain dengan anakku. Bawa kembali aku pulang.”
Bujang berteriak demikian berulang-ulang. Di tempat itu tidak adalagi Marni, mertua atau pun tetangga. Di tempat itu terdengar sunyi. Di hadapannya kini ada beberapa muda-mudi mengenakan seragam serba putih. Yang wanita mengenakan tutup kepala. Warnanya juga putih. Salah satu diantara mereka memegang jarum suntik, menusukkannya ke urat lengan Bujang.
“Bapak tinggal di sini dulu ya. Di sini bapak bisa istirahat.”
Muda-mudi itu kemudian pergi. Bujang kini sendiri. Urat-uratnya dirasa mengendur. Tubuhya lemas. Kedua kaki tangannya terbujur diikat tali serupa kain. Hidup Bujang dirasanya bahagia. Apalagi kala itu anak lelakinya muncul dihadapan dan kembali mengajaknya bermain.
Di mendung Tanjungpinang suatu sore Desember 2008
“Puih, sial! Anjing kurang ajar.” Suara Endang menggerutu. Padahal dia belum tau apakah itu sudah pasti ulah anjing. Bisa saja itu kenakalan kucing. Melihat itu Endang jadi sakit hati. Ia berfikir, semestinya sarannya dulu diikuti suami. Rumah mereka sudah lama diminta dibikin pagar keliling. Selain aman dari maling, aman juga dari serangan fajar binatang bernama anjing dan kucing.
Ide itu sudah diutarakan jauh sebelum mereka menempati rumah yang kontan dibeli. Kejadian macam serupa yang selalu diwanti-wanti. Terbukti, tak lama menghuni, rumah mereka dimasuki maling. Endang takut disantroni lagi. Cepat-cepat semua jendela dan pintu dipasangi terali. Setelah itu, semua oke. Kendala maling dianggap teratasi.
Lewat masalah satu ini, timbul masalah lain lagi. Bunga-bunga kesayanganya. Pada suatu sore, tanah hitam dari bunga-bunga di teras rumah berserak. Mawar dan aneka jenis Anthurium, tegaknya jadi miring. Tanah hitam jadi tempat ayam bermain. Yang bikin keki, ternyata ada tahi kucing. Cuih....
Ending jadi kesal pada sang suami. Uang penghasilan kerja berdua, bukannya disalurkan ke anggaran membangun pagar keliling. Fokusnya malah pada interior. Lantai dikeramik, bagian dalam pokoknya semua dibikin kinclong. Perabot tak juga lupa dilengkapi. Satu alasan yang bisa Endang maklumi. “
Gerutu Endang seketika terhenti. Suaminya didengar gebyar-gebyur mandi. Tak lama lagi, berarti suaminya akan pergi. Lekas ditingalkan saja sampah-sampah tadi.
Pada dasarnya Endang tidak takut sama dia punya suami. Pria yang menikahinya dua tahun lalu itu, santun serta baik hati. Tidak seperti dirinya yang punya kebiasaan ngomel setiap hari. Suaminya bertivikal penyabar sekaligus pengertian. Hal itulah yang membuat pasangan ini serasi.
Pernah suatu hari Endang marah besar. Ia kesal karena bunganya rusak lagi. Pelakunya, ya ayam lagi. Kemarahannya ditujukan kepada sang suami. “Ini gara-gara abang. Coba cepat rumah kita dibikin pagar. Mana mungkin ayam-ayam tetangga sialan itu masuk rumah kita. Sekarang lihatlah bunga kesayangan saya.” Tapi suaminya diam saja, cuek. Dan seperti biasa, Endang akhirnya berhenti sendiri.
Sama halnya yang terjadi pagi itu, Endang tak henti-hentinya menggerutu. Suami tetap saja pada perangainya, diam. Endang jadi segan juga. Dia tahu batasan. Sebesar apa pun marahnya, ya cuma itu, ngedumel, tidak lebih. Kendati terbilang ceriwis, Endang dikenal baik. Jiwa sosialnya tinggi. Yang namanya membantu tetangga lagi ditimpa musibah, itu dianggap hal biasa, bahkan kewajiban. Tetangga terkadang dibuat segan.
Kendati ngomel, pekerjaanya menyiapkan sarapan tetap saja jalan. Pakaian sudah disetrika rapih, sudah diletakkan di atas tempat tidur, tinggal dipakai. Pagi itu, Endang lebih memilih sarapan instant. Butuh waktu cepat untuk menyiapkan sarapan agar dia bisa kembali fokus kepada sampah yang tadi berserak. “Sarapan sendiri saja bang. Saya mau beres-beres rumah.” Katanya. Suaminya senyum jawab iya. “Tapi jangan lama-lama lho, abang setengah jam lagi berangkat. “Iya…!”
Endang bergegas. Karuan saja perkataan itu jadi beban fikiran. Tidak lama berarti segera. Ia tak ingin sampah-sampah ditinggal pergi oleh suami. Dia ingin pagi itu juga rumahnya kembali rapih. “Ah, masih banyak sampah di wadah cucian.” Sampah ini tak mau ditinggalkan. Berarti butuh pekerjaan tambahan. “Cuci semua piring dan prabot dapur dulu, kumpulkan sisa makanannya, beres. Suami baru pergi.”
Endang berusaha cepat-cepat mencuci. Piring, sendok, panci, sampai pantat kuali disikat licin. Gratak grutuk semuanya dikerjakan lekas. Ups, samar-samar hape suaminya didengar berbunyi. Padahal pekerjaanya belum lagi siap. Tidak jelas didengar apa pembicaraan sang suami. “Iya pak. Segera!” itu yang hanya menyusup ke telinga. “Wah gawat. Harus lebih cepat.” Tanganya makin ligat berkelebat. Tak peduli lagi kuku patah. Tak peduli gelang emasnya beradu gesek dengan sendok dan sebagainya. “Pokoknya segera. Nanti sampahnya ditinggal.”
Perjuangan Endang mencapai finish tepat ketika suaminya bilang “cepat.” Pekerjaannya tuntas tas tas. Sampah-sampah bekas cucian, dimasukkan dalam mangkuk tirisan. “Sebentar bang, tunggu sampahnya dulu.” Setengah teriak. Disekanya semua sampah dekat pintu belakang yang tadi berserak. Dimasukkannya ke dalam kantong plastik, disusul sampah sisa cuian. “Sudah, sekarang abang boleh berangkat.” Sampah-sampah tadi digantung ke sepada motor, sang suami lantas pergi. Tak lupa sebelumnya cipika cipiki. Endang senyum menyeka keringat basi.
*****
Tiga blok dari kediaman Endang. Edi si penghuni rumah melamun di teras menatap sampah-sampah berserak. Sampah itu barang bekas. Dia sengaja mengumpulkannya sebelum diantar ke agen menerima barang rongsokan apa saja. Plastik, besi bekas, kertas karton, buku, semua telah dipisah. Tidak terpikir bagi pemulung ini untuk memagar rumah. Begitu saja sudahlah. Yang terpenting anak bisa makan, sekolah.
“Aku rasa ini tidak cukup.” Edi menghela nafas cukup panjang. Pagi itu dia kurang gairah. Tidak seperti biasanya, rajin dan cekatan. Biasanya subuh-subuh dia keluar rumah. Menuju bak penampungan sampah sisa rumah tangga perumahan sekitar. Sebelum jam tujuh biasanya dia pulang. Si sulung anaknya diantar ke sekolah.
Belakangan Edi punya masalah keuangan. Istrinya baru sembuh setelah seminggu dirawat di rumah sakit. Lewat masalah itu, ada masalah baru lagi. Tiga bulan iuran sekolah Sulung belum di bayar. “Guru tagih-tagih terus pak.” Akh, Edi makin pusing. Pandangannya dilepas dari sampah dilempar ke langit. Omongan tagihan sekolah sudah biasa dihadapinya. Tapi yang terakhir ini beda. Runyem. Mereka diberi kesempatan satu minggu untuk melunasi. Jika tidak, Si Sulung dianggap pengurus sekolah tidak layak belajar lagi. Hari itu pas waktu untuk melunaasinya.
Sebenarnya Edi kepingin datang menjumpai wanita tetangga yang disampanya dengan panggilan Bu Endang. “Tapi tidaklah. Malu.” Soalnya utangnya sama Bu Endang masih ada. Biaya pulang istrinya dari rumah sakit saja dari Bu Endang. “Tidak mungkin.”
Edi makin stres. “Kacau.” Dia lalu menghampiri istrinya. “Mak, Sulung hari ini tidak usah sekolah saja.” Istrinya Cuma diam. Sulung disuruh melepas kembali seragam sekolah. Karung dan gancu dimasukkan ke keranjang rotan di belakang motor. Edi pergi.
Di bak sampah dia melamun lagi. Tangannya bekerja, sementara mata dan fikirannya tidak. Hanya gancu yang diayunkan ke onggokan sampah keciprak-keciprok. Padahal suasana di bak sampah itu ramai. Banyak pemulung yang juga mengais rezeki di
Bagi Edi, keadaan sedemikian ini bukan hal up normal. Tak punya duit itu merupakan hal biasa. Awalnya sebelum nikah saja dia sudah seperti itu. Istrinya selama ini maklum. “Sudah menjadi konsekuensi dinikahi pemulung. Mau bagaimana lagi,” itu kata sang istri. Tapi setelah punya anak, bagi Edi tentu tak sama lagi. Baginya cukup dia yang pemulung. Anaknya tidak. “Jangan sampai bapakmu pemulung, kamu juga jadi pemulung.” Demikian dia selalu memberi nasehat supaya anaknya rajin sekolah.
Takut betul Edi kalau Si Sulung menyamainya. Tidak muluk-muluk sampai kuliah, lulus SMA pun dianggapnya jadilah. Sama, itu yang difikirkanya di bak sampah. Entah berapa lama. Tak dirasa gancu sudah berayun beratus-ratus kali. Tidak disadarinya isi pampers, sisa makanan, dan aneka sampah lainnya memercik ke wajah. Plastik yang digancunya sudah luluh lantak pecah.
“Ups!” Mata Edi terperangah.
****
Sore hari suami Endang pulang ke rumah. Senyumnya sumringah menghantar bungkusan plastik hitam berisi jajanan gorengan. Endang menangkapnya malas. Bibirnya mengatup ditark ke samping atas. Si suami lalu tanya kenapa, "What hapen-ayak naon?" Bibir Endang tetap demikian. Tubuhnya saja yang menggeliat manja. "Anu bang, gelang kesayanganku hilang. Tak tahu kemana." Sumi jawab , apakah sudah dicari.
Tanjungpinang, November 2008
Suara jangkrik bersahut panjang. Angin bertiup dingin di celah dahan. Sejuk. Hawanya menembus jaket tebal Pak Safar. Suara sepeda motor bututnya meraung menembus embun yang mulai turun.
“Ah, sampai juga.” ia berdesah panjang.
“Waalaikum salam.” sahut dari dalam.
“Eh, Pak Safar. Masuk Pak. Silahkan.
Pak Safar lebih memilih duduk di teras. Katanya tak mau bikin repot. Di hadapannya, duduk Pak Haji Oong. Dia orang terpandang di kampung. Kaya, pemilik banyak tanah dan usaha.
“Begini pak. Sebelumnya saya minta maaf sudah mengganggu istirahat.” memberi pengantar.
“Saya kesini, mau menawarkan tanah milik keluarga kami ke Bapak. Mudah-mudahan Bapak mau dan berminat membeli. Harga bisa kita kompromikan Pak. Tanahnya strategis. Rata di dekat jalan desa. Dulu sudah ada yang menawar. Tapi tidak saya jual. Sayang. Soalnya itu salah satu peninggalan orang tua kami. Luasnya empat hektar. Bagus Pak” kemudian menyerahkan map biru yang sejak Pak Safar duduk diletak di meja.
“Bu.. tolong ambilkan kaca mata bapak.”
Tak lama istrinya datang. Dia sekalian menghidangkan dua gelas teh panas ditambah secuil kue basah. “Silahkan pak, mumpung panas,” ramah kemudian masuk ke dalam.
Lekas teh itu dihirup. Dada yang tadi dingin, kini hangat. Matanya mendelik kea rah Pak Haji Oong yang jeli menyimak kertas berisi denah tanah.
“Maaf, tanahnya belum sertifikat ya Pak? Masih alas hak.”
“Tapi saya tertarik. Rencananya mau dilepas harga berapa?” memotong Pak Safar yang tadi hendak menyela.
“Begini Pak. Seperti saya katakan tadi, saya sebetulnya sayang melepas tanah ini. Karena ada kepentingan mendadak, tanah ini saya jual. Saya tidak berharap lebih. Sesuai kebutuhan saja.” kemudian meletakkan gelas.
“Bilang saja pak. Tidak usah segan.
“Eee.. saya butuh delapan puluh juta pak. Saya rasa harga segitu sudah pantas.”
“Delapan puluh juta ya…!”
“Begini Pak Safar. Saya bukannya memanfaatkan keadaan Bapak. Jadi pertimbangan saya, tanah ini belum ada sertifikat hak milik.”
“Bagaimana kalau enam puluh juta?”
“Bapak tidak mesti menjawab sekarang. Kalau Bapak setuju, besok pagi Bapak ke sini, jual-beli kita proses. Tapi kalau Bapak berfikir untuk mencari orang lain, silahkan. Saya anggap tanah itu bukan jodoh saya.”
Pak Safar menunduk. Diam. Pak Haji Oong kini tidak lagi membahas masalah niaga tanah. Topik beralih keluarga. Menanyakan bagaimana kabar anak-anak, dan kegiatan Pak Safar semenjak pensiun jadi pegawai kelurahan. Obrolan keduanya garing. Pak Safar tidak konsen lantaran memikirkan perbandingan antara delapan puluh juta dan enam puluh juta. Tak lama, ia pamit pulang.
Di rumah istri menyambut. Usai tangannya disujud, Pak safar bergegas menuju kamar. Istrinya menyusul. Diperhatikan Harun, Yahya, dan Salim, anaknya, tertidur lelap di depan teve 14 inchi di ruang keluarga. Ruangan itu salah satu bagian perjalan rumah tangga pak safar. Dulu, saat membangun rumah, ruang itulah yang dia utamakan. Luasnya dibikin lebar dari ruangan lain. Dekorasi diset lebih nyaman agar waktu yang dihabiskan disana lebih terasa. Terngiang ditelinya suara canda mereka anak-beranak. Harmonis. Suara itu lalu hilang, Pak Safar masuk kamar.
“Mana Eka?” kata Pak Safar. Ia meletakkan peci di paku gantungan kemudian melepas pakaian.
“Eka ada di kamar. Belum tidur. Dia masih baca-baca buku. Sarah, Siti di kamar juga. Mungkin sudah tidur.”
“Ini pak, minum dulu.”
Gelas diraih. Airnya ditenggak habis. Pak Safar lalu menyingkap kelambu kemudian berbaring. Lengan kanan diletakkan di dahi. Matanya menerawang.
“Iya bu. Tapi beliau mintanya enam puluh juta. Tanah kita belum sertifikat. Bapak katanya disuruh mikir dulu. Kalau kita setuju, besok pagi sanggup dibayar”
“Jadi bagaimana Pak. Kita butuh delapan puluh juta?”
“Tenanglah bu. Kita bicarakan besok pagi saja. Bapak mengantuk”
Suasana lengang. Suara dengkur disambut jangkrik. Sesekali, terdengar pula suara tutup panci dimainkan tikus. Selebihnya senyap. Di bilik, Eka Putra, sulung Pak Safar masih betah duduk di meja belajar. Temannya buku dan lampu neon 5 watt. Kertas halaman tak bosan dibalik ke belakang. Padahal, buku itu sudah lebih tiga kali dibaca. Di meja banyak juga buku-buku. Pengetahuan umum, tes IQ, psiko tes, tertumpuk contoh-contoh soal tes CPNS.
Ia sarjana pertanian dengan predikat cumlaude, sangat memuaskan. Skripsi “Potensi Pengembangan Usaha Pengolahan Ketela Rambat” dihargai nilan “A” oleh dosen penguji. Kendati demikian pekerjaan tak kunjung didapat. Tiga tahun.
Beban itu kemudian hilang. Eka terlelap di atas tumpukan buku jadi bantal.
*****
“Bagaimana yang saya tawarkan pak? Ini waktu sudah mepet. Kalau tidak cepat, saya khawatir jatah bagi anak Bapak diserobot orang. Banyak yang berminat Pak!”
Pak Safar merenung.
“Saya mengerti Pak. Secepatnya akan saya kabarkan.”
Pak Safar termangu di teras rumah. Mata sayu, kening mengkerut. Istrinya menghampiri, lalu mengusap bahu pimpinan keluarga itu.
“Sepertinya kita memang harus menjual tanah itu bu. Enam puluh juta tidak apa. Kekurangannya akan kita cari lagi.”
Lekas Pak Safar berbenah. Sepeda motor butut miliknya dinyalakan, kemudian tancap gas. Ia ke rumah Haji Oong. Pagi itu juga, tanah dilepas sesuai harga kesepakatan. Sebelum menerima uang, Pak Safar berbicara pelan. Dia minta pinjaman dua puluh juta lagi. “Dalam waktu cepat. Saya berusaha lekas mengembalikannya pak.” Pak Safar berjanji. Haji Oong sejenak terdiam, Pak Safar terus meyakinkan. Sampai akhirnya dia mengangguk. “Iya!”
****
Suatu siang sebulan kemudian….
Tapi aku masih berdiri….
Berdiri di tengah sepi, tegak menatap hampa sunyi
Tak ku sadar hari kian gelap
Sebentar lagi akan gulita
Semestinya aku sudah duduk dekat peraduan ….
Memelintir tasbih, melafas ucapan suci
Tapi aku masih berdiri dalam gelap
Sesat menahan langkah
Bukan tak mau berjalan
Khianat membelengguku…
Sesat menyedot darah tobat
Menarik kerongkongan supaya aku tak bisa berucap astaghfirullah
Jantung dan hati hitamku yang melarang jangan kamu bermunajat
Organku jadi siluman, membuat pilihan berbuat dosa
Aku sekarat ingin pulang
Aku tak ingin berdiri di sini dimakan srigala hutan
Aku tak ingin daging tersayat nista
Biadab…..
Aku tak ingin hanya meratap diri
Aku ingin bertobat, kembali ke Tuhan dengan suciku
Ku berharap badai yang datang
Angin biasa tak ada guna
Awan… Menggumpallah engkau menghitam
Buatlah petir, sambarlah tubuh nistaku dengan kuasamu itu
Sadarkan aku dari lamunan pembawa petaka ini
Hancurkan, pecahkan bongkah batu yang mengerat ditelapakku
Gerakkanlah kakiku berjalan
Cepat…. Aku ingin pulang