Senin, 27 Oktober 2008

Kecewa Meratap Diri

Senja usiaku kini
Tapi terang tak tau kemana arah
Burung tak lagi berkicau
Sawah kini sepi karena burung pemakan padi telah pulang ke sarang

Angin-angin kala itu kian kencang mengepakkan sayap…
Menerpa pohon, menggoyang dahan
Rambut usangku yang acak tersibak
Pori-pori menggeliat dingin


Tapi aku masih berdiri….
Berdiri di tengah sepi, tegak menatap hampa sunyi


Tak ku sadar hari kian gelap
Sebentar lagi akan gulita
Semestinya aku sudah duduk dekat peraduan ….
Memelintir tasbih, melafas ucapan suci


Tapi aku masih berdiri dalam gelap
Sesat menahan langkah
Bukan tak mau berjalan
Khianat membelengguku…


Sesat menyedot darah tobat
Menarik kerongkongan supaya aku tak bisa berucap astaghfirullah
Jantung dan hati hitamku yang melarang jangan kamu bermunajat
Organku jadi siluman, membuat pilihan berbuat dosa


Aku sekarat ingin pulang
Aku tak ingin berdiri di sini dimakan srigala hutan
Aku tak ingin daging tersayat nista


Biadab…..
Aku tak ingin hanya meratap diri
Aku ingin bertobat, kembali ke Tuhan dengan suciku


Ku berharap badai yang datang
Angin biasa tak ada guna


Awan… Menggumpallah engkau menghitam
Buatlah petir, sambarlah tubuh nistaku dengan kuasamu itu
Sadarkan aku dari lamunan pembawa petaka ini
Hancurkan, pecahkan bongkah batu yang mengerat ditelapakku


Gerakkanlah kakiku berjalan
Cepat…. Aku ingin pulang

Senin, 06 Oktober 2008

Bapak Hamili Anak Tiri


"Teganya Bapak Setubuhi Meski Aku Sakit"

Tubuh dan wajah Delima (nama samaran) nampak tidak sepadan dengan usianya yang 18 tahun. Ia nampak begitu kurus terbaring di salah satu ruang di Pavilium Cempaka RSUD Tanjungpinang. Kulit wajahnya mengkerut karena kurus itu. Kondisnya begitu lemah. Untungnya, janin berusia 4 bulan dalam kandunganya dikabarkan sehat oleh dokter. Bakal bayi itu adalah buah perbuatan Sariono (38). Bapak tiri yang disapanya dengan nama Reok.

Senin (6/10) kemarin, masih nampak jelas trauma di wajah Delima. Ia terlihat depresi dan tidak dapat bercerita banyak. Baik kepada dokter, polisi, atau wartawan. Demikian pula kepada ibu, saudara, bahkan sanak famili yang menungguinya pagi kemarin.Delima hanya dapat terbaring lemas di ranjang pavilum khusus untuk ibu hamil itu. Jarum infus melekat di lengan. Kemeja serta celananya terlihat longgar. Dia sama sekali tidak bersuara saat para medis mengangkatnya ke ranjang tersebut usai diperiksa dokter.

Menurut dokter sepesialis kandungan yang memeriksanya, kondisi lemah Delima diakibatkan kurangnya makanan serta minuman yang masuk ke dalam tubuh. Selain itu, dia terlalu banyak memiliki beban fikiran.

"Dari hasil pemeriksaan, janin dalam keadaan sehat. Usianya memasuki empat bulan," kata dokter.

Menurut dokter juga, tidak didapati tanda-tanda pemerkosaan dialami korban.

"Bisa jadi persetubuhan dilakukan dalam ancaman," ujar dokter lagi.

Delima dirawat di RSUD Tanjungpinang pagi kemarin. Yang mengantarnya adalah petugas dari Polsekta Tanjungpinang Kota. Sehari sebelumnya, pihak Polsek TPI Kota menerima laporan dari Sl (48), ibu korban. Katanya, Delima telah dicabuli oleh suaminya Sariono alias Reok, yang merupakan bapak tiri dari anaknya.

Dikatakan Sl, sekitar pukul 08.00 WIB pada Minggu (5/10), dia mendapati Delima muntah-muntah di kamar mandi tempat tinggal mereka di Kampung Bugis. Dia awalnya hanya bertanya. Tapi Delima lebih pilih diam. Atas diam itu, Sl lalu berinisiatif mengajaknya ke bidan terdekat.

Setelah diperiksa air kencing (tes urine), ternyata Delima diketahui positif mengandung.
"Siapa yang menghamilimu?" tanya Sl ketika itu. Delima kemudian menjawab. Wajahnya sedikit takut.

"Bapak!" jawab Delima.

Bukan main terkejutnya Sl ketika itu. Dia tidak terima, nyaris pingsan. Pagi itu juga, Sl kemudian melaporkan kejadian tersebut ke Polsek TPI Kota. Berdasar laporan tersebut, seperti diterangkan Kapolsek TPI Kota AKP Darmawan kemarin, pihaknya kemudian mencari keberadaan Reok.

"Reok langsung kabur saat dia tahu istrinya datang ke kantor polisi. Dia tidak ada di rumah," kata Darmawan.

Setelah melakukan perburuan terhadap Reok, polisi pun akhirnya berhasil membekuk pemulung tersebut. Dia didapati sedang berada di sebuah rumah di Sungai Kecil, Kabupaten Bintan, Senin (6/10) sekitar pukul 01.00 WIB. Kata Kapolsek, Reok telah sempat tiga kali berpindah tempat.

Dari pemeriksaan yang dilakukan polisi, Darmawan mengatakan tersangka mengakui telah mencabuli korban lebih dari 10 kali. Keterangan itu menurutnya tidak senada yang disaampaikan korban. Kepada polisi Delima mengaku, korban disetubuhi lebih dari 20 kali. Kepada polisi Delima juga mengaku pernah digagahi bapak tirinya itu saat dia sedang sakit.
Terhadap Reok, polisi menjeratnya dengan pasal 294 KUHP. Ancamannya 7 tahun penjara.

Sering Ngintip Tidur dan Mandi

Di kantor polisi, Reok mengaku menyesal. Penyesalan itu bahkan disebutnya sudah dirasakannya setiap usai menggagahi anak tirinya.

"Tak tahulah. Mungkin karena saya terpengaruh setan," katanya singkat.

Menurut Reok, pertama kali dia mencabuli Delima pada sekitar bulan April lalu. Petaka terhadap Delima berawal ketika Reok menawarkan memijat tubuh anak yang dia asuh sejak mengawini ibunya 8 tahun silam.

"Dia saat itu mengeluh pegal. Jadi saya pijat," katanya.

Penghuni rumah tempat mereka tinggal berjumlah 4 orang. Delima, Reok, ibu Delima, dan adik tiri Delima berusia 8 tahun. Pengakuan Reok, saat dia memijat Delima itu, suasana rumah sepi. Adik tiri Delima sedang tidur, sedang ibunya pergi bekerja memotong ikan. Pundak Delima yang dalam posisi telungkup mulai dipijat.

Entah setan mana yang menghampiri Reok ketika itu. Setelah sekian lama kemudian, birahinya bangkit. Tubuh Delima kini dia celentangkan. Satu persatu kemudian pakaian anak tirinya itu dia lucuti. Mulai dari pakaian, hingga akhirnya bugil total.

"Dia tidak marah. Dia diam saja," pengakuan Reok.

Dalam keadaan bugil itu, Reok kemudian mencumbui tubuh sensitif Delima.

"Saat itu dia menolak. Ah, katanya. Saya pun pergi," kata Reok lagi.

Dari kejadian itulah Reok kemudian lama kelamaan kian berani. Selang beberapa hari kemudian, dia pun kembali memijat Delima. Untuk ke sekian kalinya "bermain" yang diistilahkan Reok mengajak Delima untuk bersetubuh gagal. Namun, untuk kesekian kali itu dia akhirnya berhasil mencabuli anaknya.

Menurut pengakuan Reok, lebih 10 kali perbuatan bejat itu dia lakukan.

"Siang terus, tak pernah malam. Saya tidak ada mengancam atau memukul. Terakhir, perbuatan itu saya lakukan sehari sebelum puasa. Tidak pernah juga saya gituin dia waktu dia sakit. Kalau sakit, saya memang tahu. Pernah dia saya ajak ke dokter. Tapi dia tidak mau," kata Reok memberi alasan.

Katanya juga, dia sangat menyesal atas perbuatannya itu. Kepergian dia ke Sungai Kecil menurutnya bukan untuk kabur. Melainkan mencari kerja, dan akan kembali untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Ditanya perasaan atas perbuatannya mencabuli anak tirinya. Lagi-lagi pria berjambang dan berkumis itu mengaku menyesal.

"Tak tahulah. Mungkin karena saya terangsang sering ngintip dia tidur sama mandi," ujarnya.

Hukum Berat, Bila Perlu Mati Sekalian

Wajah ibu kandung Delima Sl (38) dan salah seorang kakaknya Sm (21) nampak begitu emosi mengenang perbuatan Reok. Terlebih ketika melihat kondisi Delima yang begitu lemahnya.
Diakui Sl, dia sama sekali tidak mengetahui atas perbuatan suaminya selama ini. Dia justru tahu setelah Delima didapatinya muntah-muntah.

"Dia pendiam. Saya tanya kenapa selama ini tidak ngomong, dia bilang takut," kata Sl.

Terhadap kejadian itu, Sl berharap suaminya itu bisa dihukum berat. Terlebih lagi permintaan Sm, kakak kandung Delima. Sm berharap, bapak tiri yang tidak pernah disetujuinya sejak awal menikah dengan ibunya itu bisa dihukum mati.

"Enak-enak saja dia. Sudah dikasih makan, sudah dikasih enak, bikin seperti ini dengan adik saya," kata SM geram.

Terhadap bayi dalam kandungan Delima, Sl mengaku akan merawatnya.

Selasa, 23 September 2008

Seribu cermin Pak Wagub, Cermin Bagi Caleg

Saya cukup tertarik dengan ceritanya Pak Wagub Kepri, H.M Sani soal cermin. Cerita itu dia sampaikan kepada rekan-rekan wartawan di ruang siar RRI Tanjungpinang. Menurut saya ringan, namun syarat makna.

Ceritanya cermin dari pak wagub itu begini, dulu ada putra mahkota bertanya, kenapa dia belum juga diangkat jadi raja. Padahal dia menganggap dirinya sudah layak. Baik dari segi usia, serta wawasan.

Lalu, pertanyaan itu dijawab perdana mentri. Si Putra mahkota diminta baginda raja untuk kembali belajar. Dengan sangat terpaksa, putra mahkota pun menuruti. Dia akhirnya dikirim kepada seorang cerdik pandai yang cukup termahsyur di seantero kerajaan.

Sesampainya di sana, si putera mahkota kembali bercerita tentang keinginannya untuk menjadi raja. Ya, raja. Raja bagi kerajaan yang makmur semasa kepemimpinan bapaknya. Mendengar cerita itu, si cerdik pandai mengkerutkan kening. Dia lalu beranjak, dan kemudian pergi keluar rumah. Sekejab kemudian dia kembali lagi membawa hampir ratusan orang, berikut kereta kuda. Masing-masing kereta berisi cermin. Seluruhnya ada seribu. Si Pangeran lalu bertanya.

"Untuk apa cermin sebanyak ini?" katanya.

Lalu, dengan kelembutan penuh bijak si cerdik pandai menjawab. Ini untuk pangeran. Gunakanlah untuk mencerminkan diri anda paduka. Tiap cermin dapat menunjukkan kekurangan di diri anda. Dengan mengetahui kekurangan itu, mudah-mudahan paduka dapat berintrosfeksi diri mengenali kekurangan yang dimiliki. Tak ada yang tahu kekurangan, selain anda.

Cerita pak wagub itu kemudian mengingatkan saya kepada pesta demokrasi yang kini sedang dalam tahapan. Banyak wajah-wajah terpampang di kain berukuran besar menghiasi sudut jalan. Wajah-wajah mereka penuh semangat, cerah, ramah, sopan, dan senyum sumringah. Mungkin menurut saya, "cermin=introsfeksi diri" dibutuhkan bagi mereka.

Wajah-wajah itu lalu mengingatkan saya kepada tulisan mantan pimpinan redaksi saya di
Posmetro Batam, Hasan Aspahani (semoga sukses selalu). Dalam rubriknya, "pendekar puisi" satu ini berseloroh soal wajah-wajah para calon anggota legislatif yang memanfaatkan (kalau tak khilaf) momen tahun baru buat berkampanye.

Tulisannya ringan namun menurut saya mengundang rasa. Kira-kira yang disampaikannya begini: Kalau ingin tetap diingat dan dikenal, sebaiknya penampilan anda di spanduk jangan berubah sampai masa pemilihan tiba. Kalau di gambar memakai kumis, peliharalah kumis itu.

Disarankannya pula demikian: sebaiknya, peliharalah juga tatanan rambut. Jangan sampai model rambut yang digambar berbeda dengan yang di gambar. Intinya saran tersebut biar masyarakat calon pemilih tetap ingat dengan wajah mereka.

Menurut saya apa kata mantan bos saya ini masuk akal. Di Kota Tanjungpinang saja, tidak sedikit wajah-wajah yang mesti diingat warga. Ada ratusan jumlahnya. Wajah-wajah calon anggota dewan terhormat itu kini kian marak bertebaran. Saya yakin, menjelang lebaran ini pun spanduk-spanduk akan berubah dengan ucapan yang lain. Kembali pada pesan mantan pak bos tadi, biar spanduk diganti, penampilan asli dengan gambar di spanduk tidak berbeda.

Yang saya jumpai, tidak sedikit orang-orang dari partai politik, tokoh masyarakat, sampai ustadz yang biasa mengajar mengaji, begitu kebelet menjadi anggota dewan. Tak jarang dari mereka mulai jaga-jaga prilaku. Menyapa setiap orang dengan ramah, bersikap selembut
mungkin. Bahkan ada pula diantaranya yang tidak segan-segan menyelipkan sedikit kata jangan lupa nomor urut sekian dari partai anu disetiap akhir pembicaraan.

Saya terus terang khawatir dengan pemberitaan di mas media yang pada masa akhir pilkada atau pemilu memberitakan soal meningkatnya kebutuhan akan psikolog. Seperti yang terjadi di Ponorogo belum lama ini. Seorang mantan kandidat bupati Ponorogo tahun 2005 ini nekat mau bunuh diri. Bukan hanya lantaran kalah dalam kancah peperangan pilkada. Dia stres karena hutangnya menumpuk dan tidak mampu mengembalikannya. Hutangnya tidak sedikit, Rp2,4 M.

Itulah kekurangan pak bupati. Dia tidak mendengar cerita cermin dari pak wagub seperti saya.

Senin, 22 September 2008

Hujan Pukulan Ke Tubuh Wartawan

Tanpa perlu menunggu waktu lama bagi Hengky untuk segera beranjak dari tempat duduk. Sabtu (20/9) sekitar pukul 22.00 WIB, stringer RCTI untuk Bintan ini langsung menuju sepeda motor. Bersama beberapa rekan seprofesinya, ia lajukan sepeda motornya dengan kecepatan tinggi.
Yang ada di fikirannya bagaimana mendapat momen bagus dari keributannya dari informasi yang diterima. Mengambil gambar, lalu menghasilkan berita aktual yang menarik disimak pemirsa stasiun televisi swasta tempat ia menjadi stringer. Beberapa rekan yang bersamanya di Batu 9 tadi, ia tinggal cukup jauh di belakang.
Dalam waktu sekejap motor besar yang dia kendarai, tiba yang dimaksud. Informasi yang diterima akurat. Di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Batu 3, Jalan MT Haryono, suasana ketika itu nampak ramai. Mata-mata orang disana tertuju pada sekelompok pria berambut cepak merengsek mendesak seorang pria berpakaian seragam sekuriti.
"Waktu samapai di sana, pas sekuriti sedang dipukuli," kata Hengky.
Otak wartawannya bekerja. Tanpa menunggu lama, ia segera mengeluarkan senjatanya, berupa handycamp dari dalam tas, dan langsung mengarahkannya ke pengeroyokan yang sedang terjadi itu. Tiap adegan dia rekam.
Tapi, Hengky bekerja tidak sampai lama. Beberapa orang kemudian mendekatinya. Sebelum menjadi sasaran amukan, Hengky sempat menjelaskan kalau dirinya adalah wartawan. Tapi, orang-orang emosi yang tida diingat jumlahnya oleh Hengky kemudian menyarangnya.
Pukulan demi pukulan dia terima. Demikian juga dengan tendangan. Menurut Hengky, ketika itu dia benar-benar menjadi bulan-bulanan. Dia mengaku juga diinjak-injak.
Hengky benar-benar tidak dapat berbuat banyak. Dia bahkan tidak sadar kalau handycamp miliknya hilang. Dia baru menyadarinya setelah pengeroyoknya yang hanya diingatnya berjumlah banyak itu pergi meninggalkannya.
Yang dirasanya saat itu adalah rasa sakit disekujur tubuh. Mata kanannya memerah, dahi dan bawah mata kirinya robek. Sementara mulutunya nyonyor akibat dihujani pukulan.
"Aku tak tahu apa kawan-kawan yang berada dibelakang, melihat (saya dikeroyok). Soalnya mereka cukup jauh tinggal di belakang," ujar Hengky.
Putra, stringer Indosiar yang bersama Hengky berangkat, mengaku tidak sempat menjumpai Hengky dikeroyok. Sesampainya dia di SPBU Batu tiga, suasana memang ramai. Tapi, orang-orang yang mengeroyok Hengky telah pergi.
"Aku tertinggal jauh. Motorku tidak bisa mengejar. Aku tertinggal mulai dari Batu Delapan," kata Putra.
Usai mengalami kejadian tersebut, Hengky kemudian melaporkan kejadian yang dia alami ke Mapolsekta Bukit Bestari. Tak lama di sana, beberapa petugas intel, serta Polisi Militer dari Pangkalan Utama Angkatan Laut (Lantamal) Wilayah IV datang. Hengky, Ismail (operator SPBU), dan Udin Syamsudin (petugas sekuriti), dibawa petugas tersebut ke Markas POMAL di Jalan Merdeka, untuk dimintai keterangannya.


*Kejadian yang dialami Hengky bagi saya perlu dijadikan pembelajaran. Tidak menutup kemungkinan bagi saya, dan rekan-rekan jurnalis yang lain akan mengalami hal yang sama. Dia bisa jadi wartawan yang punya harapan mendapatkan pemberitaan yang bagus, gambar yang baik. Kejadian ini bisa menjadi guru untuk kita lebih berhati-hati damal bertugas. Dimana keselamatan diri adalah sesuatu yang tidak bisa dinafikan sesuatu hal yang penting. Dengan selamat, kita bisa menentukan langkah selanjutnya. Membuat laporan, tanpa mengalami cedera.

Kamis, 18 September 2008

Surat Untuk Anakku


Selamat Ulang Tahun Nak…

Setahun lalu, sebelum 19 September 2007, aku belumlah Abi (bapak dalam bahasa Arab). Kasih belum terbagi banyak. Nyaris semua untuk Ummi (Ibu). Setelah tanggal itu, semua berubah nak. Di hari itu kamu yang Abi beri nama Bintang Fajar Ramadhan, lahir. Status, suasana, berubah. Termasuk kasih Abi terhadap Ummi-mu.

Bintang…
Tak hanya kami ingin kau kelak menjadi terang, tinggi
Lebih dari itu, kami ingin kau juga menerangi apa yang ada disekitarmu
Meninggikan orang disekitarmu

Tak terasa menetes air mata ketika kau lahir
Bukan sekedar bangga nak..
Lebih dari itu, kami ingat dosa kami kepada kakek dan nenek mu

Begitu tergambar bagaimana wajah Ummi disaat berjuang melahirkanmu
Keringat berpeluh, wajah begitu padam menahan sakit
Begitu terbayang perasaan yang dirasa kedua orang tua kami dulu

Asa serta cita-cita untuk kami sejak itu terputus sudah
Asa dan cita-cita itu milik mu
Membesarkan mu, membuat kamu terang seperti nama mu…

Besarlah nak
Di usia setahunmu ini kamu sudah bisa berdiri
Kepandaian itu berkat usahamu
Kami hanya membimbing
Demikian untuk nanti-nati

Besarlah nak
Terang, menyongsong hidup, dengan kesucian serta ketulusan
Bintang Fajar Ramadhan

Selamat Ulang Tahun Nak (19 September 2008)

Tanjung Pinang







Tanjungpinang, damai. Bernuansa Melayu. Sebuah kota yang membuat aku jatuh cinta dalam tahun pertama kedatanganku (Juli 2005).

(Sebagian foto karya sahabatku Nurul Iman alias Nyonk.. semoga sukses selalu)

Minggu, 14 September 2008

Keputusan

Oleh Andri Mediansyah

Gelap, bau alkohol, bau obat-batan. "Dimana aku?" Pertanyaan itu seketika muncul dalam pikiranku. Aku berusaha bangkit. Tapi, seketika tubuhku bergetar. Sakit di kepala ku terasa begitu nyeri. Ada perban membalut kepalaku. Hingga saat itu pun aku belum tahu apa sebenarnya yang terjadi kepadaku.

Dalam kegelapan itu, dalam remang pandanganku, muncul sosok tubuh dari balik pintu mengenakan pakaian serba putih. Dinyalakannya lampu yang mungkin sengaja diatur redup. "Jangan banyak gerak dulu," suara itu terasa lembut dan tenang.

Dia seorang wanita mengenakan seragam perawat. Aku baru sadar, aku berada di ruang perawatan rumah sakit. "Anda siang tadi diantar seseorang. Anda mengalami kecelakaan," katanya lagi.

Dalam nyeri kepalaku, aku mencoba mengingat apa yang terjadi. Siang tadi, diantar seseorang, kecelakaan? Pertanyaan-pertanyaan itu coba kujawab dengan usaha memutar memoriku pada peristiwa yang kulalui sebelumnya.

Setiap aku berfikir, setiap kali juga sedutan di kepalaku terasa menusuk. Tapi aku penasaran. Aku harus tahu dengan apa yang kualami. Lambat laun memoriku mulai beraksi. Seingatku, pagi tadi, ada pesan masuk melalui Hp-ku.

Iya, aku ingat. Pagi tadi aku menerima pesan. Lalu siapa yang mengirim pesan itu? Apa isinya? Kembali otakku kupaksa bekerja untuk mengingat. Sembari si perawat sibuk mengganti infus yang menancap di lengan kananku, otakku memberi sinyal kalau ia tak sanggup lagi bekerja. Hanya itu yang dapat kulakukan untuk mengingat apa yang sebenarnya terjadi. Aku tak sadar lagi.

Suara detak sepatu membangunkan membuat mataku spontan terbuka. Kini cahayanya tak gelap lagi. Ternyata hari telah pagi. Dari jam dinding yang terpajang di dinding ruangan, waktu itu menunjukkan jam tujuh. Kini kepalaku terasa tak berat lagi.

Aku mulai mengingat apa yang terjadi sebenarnya. Pesan yang sebelumnya ku ingat kuterima, dikirim oleh Imel. Dia teman kantorku. Kami punya hubungan yang dekat. Enam bulan berjalan kami saling mengenal. Sebetulnya ada hubungan khusus antara kami.

Aku terakhir berjumpa dengannya dua hari sebelum aku terbaring di rumah sakit. Kepadaku ia menyampaikan isi hatinya. Menyampaikan perasaan bahwa dia mencintaiku. Aku hanya tersenyum. Aku tak mampu menjawabnya. Kami pun bubar tanpa ada jawaban.

Di rumah, lama aku menimbang. Aku tak bisa membalas cintanya. Aku tak mungkin menghianati cinta yang selama ini telah dipersembahkan Manda kepadaku.

Kuingin ucapkan "a"
Tapi entahlah, sulit untuk mengucap itu
Padahal aku tahu yang kurasakan adalah "a"

Mungkin ada yang sangat butuh dengan "a" itu hingga menjadi lengkap suatu kalimat baginya

Padahal, sangat sulit apa yang telah tertulis dihati menjadi pudar
Apa mungkin "a" itu kurubah menjadi "b"
Apakah juga mungkin kubuat menjadi "a-a"
Ah, entah lah

Kukirimkan rangkaian kata yang kubuat itu melalui sms kepada Imel. Aku kemudian tidur, sembari memikirkan keputusan tersebut.

**************

Pagi-pagi sekali hp ku mendengarkan nada bahwa ada pesan yang masuk. Buru-buru ku buka. Ternyata pesan itu dari Imel. "Bang, aku sekarang di bandara. Maaf aku telah lancang. Aku akan segera berangkat ke Jakarta. Selamat tinggal."

Buru-buru ku raih jaket dan kunci motor diatas meja dekat pembaringanku. Sembari menimbang pesan bahwa pesan yang tadi malam kukirimkan adalah penyebanya, aku lajukan kendaraanku dengan kencang.

Semua kendaraan yang ada didepan semua coba ku potong. Sampai akhirnya, satu tak lolos. Ban belakang sepeda motorku menyenggol sebuah sedan yang coba ku salip. Aku terpental, tak sadar. Aku gagal tuk menjumpainya karena akhirnya aku berada di rumah sakit ini.