Tampilkan postingan dengan label catatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label catatan. Tampilkan semua postingan

Senin, 25 Mei 2009

refleksi usia 31

Ketika surya tenggelam
adakah esok terbitnya menyapa
ketika jarum jam berdetak
tak mungkin ia memukul ke belakang

coba, coba pandanglah ke cermin
mata itu, gigi itu, rambut itu, kulit itu, tak lg berpihak
usang, usang itu kini dan nanti menjadi sahabat yang menanti

lantas mau apa lagi
siapkan bekal
tanah kian dekat ke hidung
tanah adalah jam, tanah adalah surya tenggelam

Jumat, 20 Maret 2009

Kemana Cita-Cita Kami dan Anakku


Tulisan berikut adalah sebuah pengalaman saya menjalankan profesi saya sebagai jurnalis. Armaini, dia seorang ibu yang menurut saya memiliki pengalaman hidup yang getir. Sebuah kenyataan hidup yang mungkin ada di sekitar lingkungan kita. Mudah-mudahan Anda yang saya hormati berkenan membacanya. Mudah-mudahan akan menggugah hati kita sekalian untuk lebih bersemangat melihat lingkungan sosial sekitar kita. Trimakasih:

Air mata Armaini (53), seolah tak henti mengalir. Ia teringat anaknya, Sandi Kurnia (15) yang kini berada di balik jeruji Rumah Tahanan Tanjungpinang. Dia khawatir anaknya berulang kali mengatakan ingin bunuh diri karena takut berada di dalam penjara. Armaini ingin membesuk setiap hari. Tapi apa daya, biaya menjadi kendala.

Airmaini, ibu empat orang anak ini tinggal di sebuah rumah kontrakan yang letaknya terpencil diantara perumahan warga di Jalan Sunaryo, Gang Pelita RT.03 RW.VIII Tanjungpinang. Di rumah petak berukuran 2x7 meter itu, ia kini tinggal bersama suaminya Samsul Bakhri (55), dan anak bungsu mereka Sandi Kurnia (15) yang kini menunggu putusan majelis hakim Pengadilan Negeri Tanjungpinang.
Tiga anak perempuanya sudah tidak tinggal bersama mereka lagi. Mereka telah menikah dan tinggal bersama suaminya. Armaini merasa cukup ketiga anak perempuannya hanya tamat sekolah dasar dan tingkat pertama. Penghidupan mereka hanya mengandalkan penghasilan dari sang suami yang bekerja penambang pompong.
"Mengharap rezeki macan. Dapat dua puluh ribu sehari, sudah syukur," kata Armaini, Jumat (20/3) siang.
Dengan rezeki "macan" itu, ia menyebut sudah terbiasa jika tak ada lauk yang bisa disantap. Ditambah dengan permasalahan yang kini dihadapinya, daging di tubuh wanita baya itu makin menyusut saja. Dia katanya sakit sejak Sandi, anak bungsu laki-laki satu-satunya itu, dimasukkan ke dalam bui lantaran melakukan pelanggaran lalu lintas.
Pada 4 September 2008 lalu, waktu bulan puasa, Sandi dijemput teman satu sekolahnya di SMP Negeri 8 Tanjungpinang. Sandi dijemput pergi menggunakan sepeda motor. Di tengah jalan Sandi berganti mengendarai. Musibah. Ketika melintas di depan Swalayan Top 10, Jalan Tugu Pahlawan, sepeda motor yang dikendarai Sandi menabrak sepeda motor lain.
Sandi mengenal orang yang ditabraknya. Esa, remaja yang ditabrak itu teman satu sekolah, sekaligus juga teman sepermainan di kampung. Sepeda motor yang dikendarai Sandi rusak. Demikian pula dengan sepeda motor lawannya. Akibat kecelakaan itu, Esa mengalami luka di bagian kepala.
Malam di hari kecelakaan, orang tua beserta kakak-kakak Sandi menemui pihak keluarga Esa. Mereka meminta damai. Kejadian itu diharapkan dilupakan.
Pihak keluarga Esa, seperti dikatakan Surya (23), Kakak Sandi, menyatakan keinginan supaya keluarga mereka peduli memberikan biaya pengobatan serta mengganti biaya kerusakan sepeda motor. Jumlahnya Rp4 juta untuk pengobatan, dan Rp8 juta untuk perbaikan sepeda motor.
"Kami tak sanggup. Dari mana uang sebanyak itu," kata Surya.
Kendati demikian, perdamaian tetap terpenuhi. Perdamaian hanya berdasarkan lisa, tidak disertai pernyataan hitam di atas putih. . Orang tua Sandi pun merasa lega lantaran mereka menganggap masalah telah selesai.
Tapi perkiraan mereka salah. Tanggal 10 September, petugas dari Unit Kecelakaan Lalu Lintas Satuan Lalu Lintas Polresta Tanjungpinang, datang. Kedua polisi itu membawa Sandi ke kantor mereka di Batu 3 untuk dimintai keterangannya didasarkan laporan yang diberikan oleh orang yang ditabrak Sandi.
Armaini seketika syok. Dia takut anaknya berurusan dengan polisi. Ia sejak itu tak peduli lagi dengan urusan rumah tangga. Dia pun degan setia menunggu Sandi diperiksa. Beban pikirannya makin berat saja manakala polisi menyatakan Sandi harus ditahan.
"Waktu itu saya tak mau pulang. Tak makan tak mengapa. Saya tidur di emperan jalan dekat kantor pak polisi. Saya tak peduli," kata Armaini mengenang.
Armaini hanya mampu bertahan dua hari saja. Ia jatuh sakit. Kondisinya lemah. Di rumah ia terus melamun, menangis, mengingat bagaimana kondisi anaknya. Seminggu kemudian, Sandi dibebaskan. Polisi berbaik hati menangguhkan penahanannya.
Kondisi Armani perlahan membaik sepulang anaknya itu. Ia bahagia. Cita-cita untuk melanjutkan sekolah anaknya, dia bayangkan bisa terwujud. Mereka mendatangi SMP 8 tempat Sandi sekolah. Mereka berharap anaknya itu bisa kembali bisa bersekolah di SMP itu.
Tapi tidak bisa. Sandi sudah terlanjur dikeluarkan. Absensi Sandi banyak keterangan alfa.
"Padahal absennya itu karena dia sakit cacar. Keterangan dokter menyebut Sandi diperbolehkan sekolah sampai dia sembuh," ujar Armaini.
Tak mengapa, toh Armaini dan suaminya beranggapan Sandi bisa bersekolah di sekolah lain. Untuk biaya pendaftaran, Syamsul Bakhri merelakan untuk tidak menonton lagi. Televisi milik mereka, dijual. Uangnya mereka simpan baik-baik menunggu tahun pelajaran baru tiba.
Hari hari pun terus bergulir. Hingga 23 februari lalu, kenyamanan rumah mereka kembali sirna. Dua polisi yang dulu menjemput Sandi, datang lagi dengan maksud tujuan yang sama. Sandi kali ini dijemput untuk menghadiri persidangan di Pengadilan Negeri Tanjungpinang. Sungguh menyakitkan bagi Armaini, Kejaksaan Negeri Tanjungpinang, dalam surat penetapan nomor PRIN-297/N.10.10.3/Ep.1/02/2009, memerintahkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Limbong SH, menahan Sandi. Anak bawah umur itu dititipkan ke Rumah Tahanan Kelas I Tanjungpinang.
Ditemui di ruang kerjanya, Limbong SH menyebut penahanan terhadap Sandi itu prosedural. Alasannya, tidak ada perdamaian antara kedua belah pihak, dan korban berstatus pelajar. Selain itu, ujar Limbong SH, Sandi tidak berstatus sebagai pelajar meski ia masih di bawah umur. Sandi juga disebutnya tidak kooperatif selama menjalani pemeriksaan di kepolisian.
"Alasan itu yang menyebabkan terdakwa harus kita tahan. Jika tidak ditahan, kita khawatir pihak korban akan marah," ujar Limbong.
Sejak ditahan itu, Sandi sudah tiga kali menjalani persidangan. Baru satu kali dia didampingi oleh petugas Balai Pemasyarakatan, sebuah lembaga yang khusus mendampingi anak-anak saat berhadapan dengan hukum. Selama menghadapi masalah itu pula, Sandi tidak mendapat perhatian penuh dari Komisi perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Kepri.
Putu Ervina, Ketua KPAID Kepri, mengatakan pernah mendampingi Sandi ketika menjalani pemeriksaan oleh kepolisian meski tidak secara formal. Hanya satu kali itu saja. Selanjutnya, KPAID Kepri tidak mengikuti lagi perkembangan permasalahan hukum yang dihadapi Sandi.
"Kami baru tahu setelah diinformasilkan oleh wartawan. Akan kami follow-up. Pokja Pengaduan kami (KPAID) akan menemui keluarganya," kata Putu, Jumat (20/3).
Setelah menjalani tiga kali persidangan, Kamis (19/3) lalu, Sandi menerima tuntutan. JPU menuntutnya dengan penjara selama 6 bulan. Ia dianggap bersalah melanggar pasal 360 ayat 1 KUHP. Menurut Limbong SH, tuntutan tersebut wajar, bukan berdasarkan pertimbangan pribadi, namun atas pertimbangan atasannya.
Armaini, Samsul Bakhri, Surya, dan saudara-saudaranya yang lain kini hanya bisa pasrah. Mereka kini hanya menunggu vonis yang dijatuhkan majelis hakim pada persidangan sekali lagi. Armaini, ketika ditemui, mengaku selalu memanjatkan doa dalam shalatnya supaya hakim dapat memutuskan seringan-ringannya untuk anaknya.
Ia menangis. Ia teringat anaknya. Sandi katanya selama ditahan di dalam Rutan, selalu menangis. "Saya tak tega," ujar Armaini mengusap air mata.
Anaknya itu, katanya, bak putus asa. Sudah beberapa kali Sandi menyebut lebih baik mati saja. Dia pernah mengutarakan ingin bunuh diri.
"Anak saya itu suka berfikir macam-macam," katanya.
Sandi menyampaikan ingin setiap hari ditemani, dibesuk di penjara. Dia katanya takut. Armaini mengaku ingin. Tapi apa daya. Dia terkendala biaya. Ia katanya tidak memiliki ongkos serta tak ada sesuatu yang bisa dibawakan untuk anaknya.
"Tolonglah pak.. kami tak tahu berbuat apa," ia menangis lagi. Sandi katanya anak lelaki satu-satunya yang kini diharapkan dapat memperbaiki kehidupan mereka. Sandi disebutnya ingin mereka sekolahkan, dengan segenap daya upaya melanjutkan cita-cita mereka.
"Kami ini orang bodoh. Tak ingin kami anak kami ikut bodoh!"
Wanita itu, wanita bertubuh ceking itu kian larut dalam sedihnya.

Selayaknya Kepri Punya Lapas Anak.
Ketua Pokja Pengaduan, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAID) Kepri, Andi Amril, menyebut memang sudah selayaknya Provinsi Kepri memiliki Lembaga Pemasyarakatan (LP) khusus bagi anak-anak yang berhadapan dengan hukum.
KPAID mengaku memang tidak memiliki data resmi mengenai jumlah anak-anak yang berhadapan dengan hukum. Untuk mendapatkan angka tersebut, KPAID disebutnya sedang mengupayakannya melalui surat yang dilayangkan kepada Pengadilan Negeri (Batam, Tanjungpinang, dan Karimun).
Untuk Tanjungpinang, katanya, dari data yang didapatkan dari Kejaksaan Negeri Tanjungpinang, sepanjang tahun 2008 lalu terdapat 13 kasus yang pelakunya berada dibawah umur.
Untuk mengupayakan diadakannya LP khusus Anak, KPAID telah mengusulkan dalam salah satu pasal pada Peraturan Daerah (Perda) yang kini tengah digodok oleh Pemerintah Provinsi Kepri.
Dalam menghadapi permasalahan hukum, kata Andi, anak-anak yang jiwanya rentan, akan mengalami tekanan fsikis yang mengganggu kejiwaannya.
"Mereka masih memiliki hak-hak kesehatan, mendapat perhatian khusus dari orang tua. Saat mereka di penjara, tentu-hak-hak itu hilang," ujar Andi.
Menunggu perda itu terealisasi, lanjut dia, anak-anak bermasalah hukum yang dititipkan di Rutan, semestinya mendapat perlakuan khusus. Mereka tidak boleh dicampur dengan tahanan dewasa, dan mendapatkan bimbingan psikis.
"Ini sangat penting untuk kejiwaan mereka," katanya lagi.
Terpisah, Kepala Seksi Pelayanan Tahanan Rutan Kelas I Tanjungpinag, Oga Darmawan SH, M.Si menyebut pihaknya menyediakan dua ruang khusus bagi anak-anak bermasalah dengan hukum. Hal itu disebut Oga memang terbatas. Bimbingan anak katanya masih mengandalkan petugas Balai Pemasayarakatan.
Anak-anak yang bermasalah dengan hukum tersebut digabung dengan tahanan yang berusia anak dengan klasifikasi mulai dari usia 0 sampai 18 tahun. Mereka tidak dipisah, dicampur dengan tidak memandang jenis kejahatan atau pelanggaran yang mereka lakukan. Oga lalu menyebut ada dua klasifikasi tahanan anak di Rutan, anak pidana dan anak titipan.
"Sudah selayaknya jika diadakan LP khusus anak," katanya.(ame)

Senin, 01 Desember 2008

Kisah Heroik Ketua RT

20 Menit Menegangkan
Pak RT Dan Istri Bertarung Melawan Rampok

Sejurus kemudian, sebelah tangan pria bertopeng itu mendorongkan pisaunya ke arah perut. Safari tak mau terluka. Dengan tangan yang sama laju pisau itu ditepis.

Pukul 21.00 WIB, di Dompak Darat suasana sudah sepi. Seperti malam-malam sebelumnya, Safari (32) berniat menutup kedainya. "Tak bakalan ada lagi yang membeli," fikir pria yang diangkat sebagai Ketua RT.4 RW.2 Kelurahan Dompak tersebut.

Sejak enam tahun tinggal di sana, rumah tempat tinggal Safari memang sepi. Rumah di daerah tersebut berjauhan jarak. Rumah terdekat dari tempat Safari tinggal bersama anak-anaknya berjarak 500 meter. Sudah menjadi kebiasaan pada jam tersebut tak ada lagi yang berbelanja ke kedai kelontongnya.

Sebelum menutup kedai, Safari terlebih dahulu memasukkan sepeda motornya ke kedai. Pria asli Dompak Darat itu sudah punya rencana. Usai memasukkan sepeda motor, kerja selanjutnya mematikan mesin jenset yang diandalkan sebagai penerangan.

Pelan sepeda motor kemudian didorong. Belum sampai masuk, ketika dia melihat dua sosok bertutup wajah mendekati. Geraknya cepat. Satu bertubuh cukup besar menggunakan sebo. Seorang lagi yang bertubuh sedikit kurus menjadikan baju kaos supaya wajah tidak dikenal.

"Astaga! Kedua sosok tersebut bersenjata!" Safari membatin.

Keduanya memegang senjata berjenis sama. Sebelah tangan menggenggam broti, tangan lainnya menghunus pisau. Safari terperangah. Tiba-tiba, pria bersebo melayangkan broti ke tubuh Safari. Pak Rt itu menghalau serangan dengan menangkis menggunakan lengan kirinya. Keras, hingga tangannya bergetar, bengkak.

Sejurus kemudian, sebelah tangan pria bertopeng itu mendorongkan pisaunya ke arah perut. Safari tak mau terluka. Dengan tangan yang sama laju pisau itu ditepis. Ibu jarinya terluka. Rupanya, seorang lagi yang bertubuh kurus juga ikut menyerang. Safari diserang menggunakan pisau. Kali ini sasarannya ke arah dada. Sigap Safari mengelak. Tubuh kekarnya lalu dia jatuhkan ke belakang, kemudian tersandar di dinding kedai.

Kali ini, Safari tak dapat bergerak. Dua buah pisau sekaligus bersarang di tubuhnya. Satu di leher, satu lagi di perut. Pisau itu menempel dingin, lalu mendinginkan tubuh Safari. "Jangan bergerak kau. Kalau tidak mati." Rampok mengancam. Tokoh warga setempat itu kini menyerah, diam.


Dalam waktu itu, terdengar teriakan seorang perempuan, Are (28), istri Safari. Dari dalam rumah wanita yang dicintai Safari itu berteriak "Ada apa bang?" Safari tak menjawab. Memang disengaja. Dia tidak ingin istrinya mendekat lalu menjadi korban rampok-rampok tersebut.

Celaka. Seorang rampok bertubuh kurus dihadapannya melepaskan pisau dari perutnya. Pria menggunakan kaos sebagai penutup wajah itu lekas pergi masuk ke rumah Safari. Dia menghampiri istrinya. Safari sangat khawatir dengan hal itu.

Kini, Safari berhadapan dengan hanya satu orang rampok. Keadaan itu lalu dia gunakan sebagai kesempatan. Dia kembali berencana. Melumpuhkan rampok yang mengancamnya dengan pisau itu, lalu menolong istyrinya. Cepat tangan kanan Safari meraih pisau si rampok.

"Tadinya saya ingin meraih tangannya. Tapi yang dapat justru pisau," kata Safari, di Polresta Tanjungpinang, Rabu (26/11) kemarin.

Tak mau rencana gagal, tak ingin dia terluka, Safari melanjutkan perjuangannya. Mata pisau itu dia cengkram erat. Perebutan benda tajam itu berlangsung. Kokoh dengan pendiriannya, Safari lalu memelintir pisau ke arah kanan. "Tak!" pisau dapur itu lalu patah.

Sekarang, si rampok bersebo dihadapannya yang terlihat terdiam. Lalu, dengan gagahnya Safari kemdian menhajarnya. Rampok itu berhasil dia lumpuhkan.

"Saya sempat membuka topengnya (sebo, red). Saya kenal wajahnya. Kepala botak," ujar Safari.

Pria itu kemudian langsung kabur. Dia berlari ke arah temannya yang tadi mengejar Are. Safari lekas juga menyusul. Bukan untuk menangkap si perampok, melainkan mencari tau bagaimana keadaan istrinya. Ah, bukan main leganya ia ketika itu. Selama 20 menit dia bergelut dengan si perampok. Istrinya terselamatkan. Hanya tanganya yang terluka. Rupanya, di saat Safari bertarung melawan si rampok, istrinya juga demikian.

Safari kemudian berusaha mengejar kedua rampok tersebut. Sia-sia. Rampok tersebut kabur menggunakan sepeda motor. Dia lalu berteriak. Usahanya sia-sia juga. Sampai suaranya serak, tak ada seorang pun yang muncul. Selanjutnya, dia baru menyadari punggungnya mengucur darah. Luka menganga cukup panjang.

"Saya tak sadar lagi kapan kenanya," kata Safari menunjukkan luka itu di kantor polisi.

Minggu, 09 November 2008

Aisyah Sulaiman Diselubung Kata

Lampu menyorot ke hanya beberapa titik di panggung. Yang lain gelap. Pun demikian tribun ramai pengunjung. Bias cahaya kuning menyapu wajah pria berusia 65 tahun. Ia berdiri di podium. Rida K Liamsi, matanya terpejam di balik kaca mata. Mulut komat-kamit mengucap sajak. Mulutnya berkatup, tepuk tangan lalu riuh.


"Buku ini, (buku kumpulan sajak berjudul Perjalanan Kelekatu) sudah beredar di Pekanbaru. Belum pernah saya baca. Saya menungggu momen yang tepat. Saya menunggu membacanya di Tanjungpinang ini," ujar Rida K Liamsi sebelum ia berteriak terkadang merintih syahdu membaca sajak-sajak dalam buku karangannya.

Malam itu, Sabtu (8/11) di Gedung Kesenian Aisyah Sulaiman Tanjungpinang, CEO Riau Pos Group itu menjadi penyair terakhir yang tampil. Lima sajak dari buku kumupulan puisi dia baca berurut. Sajak-sajak dari buku kumpulan puisinya yang paling anyar diluncurkan; Di Great Wall, Aceh Suatu Hari Sesudah Tsunami, Rose Lima, Dan Sejarah Pun Berdarah, serta sajak wajibnya berjudul Tempuling. Sajak-sajak itu memadu diucap diiring alunan musik kontemporer iringan Raja Ahmad Helmi.

Ia nampak bahagia, senang. Kerinduannya membaca puisi terlampiaskan. Sudah lama, sudah 18 tahun dia tidak membaca puisi di kota yang mengawali kesusastraannya, Tanjungpinang. Tidak sekadar membaca sajak, malam itu Rida K Liamsi bereuni. Teman-teman lama, Wakil GUbernur Kepri H M Sani, Mahzumi Daud, dan Tusiran Suseno, datang. Mereka juga berperan membaca puisi.

H M Sani, bangga membaca salah satu sajak Rida K Liamsi, Di Masjidil Haram, Setelah Menara Zamzam. Mahzumi Daud, penyair gondrong berlentera, berteriak lantang membaca puisi karangannya. Ia menepak emosional meja podium.
Lain lagi polah Tusiran Suseno. Ia membawakan puisi parodi. "P", itu judulnya. Luar biasa, penonton bergelak tawa mendengar olahan kata P tadi. Misalnya demikian: Apalah artinya P (saya tak sebut) kalau tak hidup.

Selain tiga nama itu, ada Hasan Aspahani, Ramon Damora, Husnizar Hood, Teja Albab, Lawen Newal, dan Abdul Kadir Ibrahim. Membacakan sajak juga dilakukan Walikota Tanjungpinang Suryatati A Manan, Wakil Bupati Bintan mastur Taher, dan Aida Zulaika, istri Gubernur Kepri Ismeth Abdullah.

Hasan Aspahani, pengelola sejutapuisi.blogspot.com dan pimpinan redaksi Batam Pos ini membawakan satu puisinya berjudul Sungai Yang mengalir di Negeri Kita. Ia sudah membacanya di Jakarta dan Yogyakarta. Pembawaan Hasan membacanya malam itu tegas, santun.

Tak kalah santun pula Pemimpin Redaksi Pos Metro Batam, Ramon Damora. Dia membawakan sajak tanpa judul. Sebuah hasil karya yang katanya paling religius. Puisi percintaan, tentang hubungan asmara bahkan diucap berhubungan badan. Penonton bertanya bagian mana yang disebut religus. Pemilik kumpulan sajak Bulu Mata Susu ini menjawab di akhir sajak: "Insya Allah nazis". Itu maksudnya religus.

Di panggung Teja Albab membawa dua puisi dari kumpulan sajaknya Sabda Kejora. Sabda Kejora (berisi pesan kepada presidan), dan Akulah Sang Pangeran. Membawakan Akulah Sang Pangeran Teja nampak begitu angkuh. Di puisi buat istrinya itu ia menganggap dirinya bagai lelaki sempurna.

Sementara, Mastur Taher menyajikan sebuh puisi Apa Kata Pahlawan. Puisi karangannya itu mengangkat isyu pro dan kontra terhadap disyahkannya UU Anti Pornografi. Mastur disambut tepuk tangan. Demikian pula Kabag Humas Pemko Tanjungpinang Abdul Kadir Ibrahim (Akib). Awal penampilannya mengejutkan penonton. Dia berteriak dari salah satu kursi di tribun. Jeritannya berirama mendayu sambil berarak menuju panggung dan kemudian membawakan dua puisi bernuansa sufistik.

Tak kalah seru Aida Zulaika. Dia bersemangat membawa dua puisi. Satu karangan Rida K Liamsi berjudul Surat Kepada GM, dan sajak karangannya Ahlak Mulia. Suryatati lebih terlihat melankolis. Satu puisi Rida K Liamsi, Asam Paya, ia bawa. Puisi satunya, Walikota Tanjungpinang lalu bernostalgia. Dia menyampaikan kenangan, teringat bapaknya yang begitu senangnya mengantar keberangkatan orang naik haji. Suryatati mengaku teringat di saat dia melepas kontingen haji. Mata Suryatati kala itu memantulkan cahaya air, seolah hendak menangis.

Selasa, 23 September 2008

Seribu cermin Pak Wagub, Cermin Bagi Caleg

Saya cukup tertarik dengan ceritanya Pak Wagub Kepri, H.M Sani soal cermin. Cerita itu dia sampaikan kepada rekan-rekan wartawan di ruang siar RRI Tanjungpinang. Menurut saya ringan, namun syarat makna.

Ceritanya cermin dari pak wagub itu begini, dulu ada putra mahkota bertanya, kenapa dia belum juga diangkat jadi raja. Padahal dia menganggap dirinya sudah layak. Baik dari segi usia, serta wawasan.

Lalu, pertanyaan itu dijawab perdana mentri. Si Putra mahkota diminta baginda raja untuk kembali belajar. Dengan sangat terpaksa, putra mahkota pun menuruti. Dia akhirnya dikirim kepada seorang cerdik pandai yang cukup termahsyur di seantero kerajaan.

Sesampainya di sana, si putera mahkota kembali bercerita tentang keinginannya untuk menjadi raja. Ya, raja. Raja bagi kerajaan yang makmur semasa kepemimpinan bapaknya. Mendengar cerita itu, si cerdik pandai mengkerutkan kening. Dia lalu beranjak, dan kemudian pergi keluar rumah. Sekejab kemudian dia kembali lagi membawa hampir ratusan orang, berikut kereta kuda. Masing-masing kereta berisi cermin. Seluruhnya ada seribu. Si Pangeran lalu bertanya.

"Untuk apa cermin sebanyak ini?" katanya.

Lalu, dengan kelembutan penuh bijak si cerdik pandai menjawab. Ini untuk pangeran. Gunakanlah untuk mencerminkan diri anda paduka. Tiap cermin dapat menunjukkan kekurangan di diri anda. Dengan mengetahui kekurangan itu, mudah-mudahan paduka dapat berintrosfeksi diri mengenali kekurangan yang dimiliki. Tak ada yang tahu kekurangan, selain anda.

Cerita pak wagub itu kemudian mengingatkan saya kepada pesta demokrasi yang kini sedang dalam tahapan. Banyak wajah-wajah terpampang di kain berukuran besar menghiasi sudut jalan. Wajah-wajah mereka penuh semangat, cerah, ramah, sopan, dan senyum sumringah. Mungkin menurut saya, "cermin=introsfeksi diri" dibutuhkan bagi mereka.

Wajah-wajah itu lalu mengingatkan saya kepada tulisan mantan pimpinan redaksi saya di
Posmetro Batam, Hasan Aspahani (semoga sukses selalu). Dalam rubriknya, "pendekar puisi" satu ini berseloroh soal wajah-wajah para calon anggota legislatif yang memanfaatkan (kalau tak khilaf) momen tahun baru buat berkampanye.

Tulisannya ringan namun menurut saya mengundang rasa. Kira-kira yang disampaikannya begini: Kalau ingin tetap diingat dan dikenal, sebaiknya penampilan anda di spanduk jangan berubah sampai masa pemilihan tiba. Kalau di gambar memakai kumis, peliharalah kumis itu.

Disarankannya pula demikian: sebaiknya, peliharalah juga tatanan rambut. Jangan sampai model rambut yang digambar berbeda dengan yang di gambar. Intinya saran tersebut biar masyarakat calon pemilih tetap ingat dengan wajah mereka.

Menurut saya apa kata mantan bos saya ini masuk akal. Di Kota Tanjungpinang saja, tidak sedikit wajah-wajah yang mesti diingat warga. Ada ratusan jumlahnya. Wajah-wajah calon anggota dewan terhormat itu kini kian marak bertebaran. Saya yakin, menjelang lebaran ini pun spanduk-spanduk akan berubah dengan ucapan yang lain. Kembali pada pesan mantan pak bos tadi, biar spanduk diganti, penampilan asli dengan gambar di spanduk tidak berbeda.

Yang saya jumpai, tidak sedikit orang-orang dari partai politik, tokoh masyarakat, sampai ustadz yang biasa mengajar mengaji, begitu kebelet menjadi anggota dewan. Tak jarang dari mereka mulai jaga-jaga prilaku. Menyapa setiap orang dengan ramah, bersikap selembut
mungkin. Bahkan ada pula diantaranya yang tidak segan-segan menyelipkan sedikit kata jangan lupa nomor urut sekian dari partai anu disetiap akhir pembicaraan.

Saya terus terang khawatir dengan pemberitaan di mas media yang pada masa akhir pilkada atau pemilu memberitakan soal meningkatnya kebutuhan akan psikolog. Seperti yang terjadi di Ponorogo belum lama ini. Seorang mantan kandidat bupati Ponorogo tahun 2005 ini nekat mau bunuh diri. Bukan hanya lantaran kalah dalam kancah peperangan pilkada. Dia stres karena hutangnya menumpuk dan tidak mampu mengembalikannya. Hutangnya tidak sedikit, Rp2,4 M.

Itulah kekurangan pak bupati. Dia tidak mendengar cerita cermin dari pak wagub seperti saya.

Senin, 22 September 2008

Hujan Pukulan Ke Tubuh Wartawan

Tanpa perlu menunggu waktu lama bagi Hengky untuk segera beranjak dari tempat duduk. Sabtu (20/9) sekitar pukul 22.00 WIB, stringer RCTI untuk Bintan ini langsung menuju sepeda motor. Bersama beberapa rekan seprofesinya, ia lajukan sepeda motornya dengan kecepatan tinggi.
Yang ada di fikirannya bagaimana mendapat momen bagus dari keributannya dari informasi yang diterima. Mengambil gambar, lalu menghasilkan berita aktual yang menarik disimak pemirsa stasiun televisi swasta tempat ia menjadi stringer. Beberapa rekan yang bersamanya di Batu 9 tadi, ia tinggal cukup jauh di belakang.
Dalam waktu sekejap motor besar yang dia kendarai, tiba yang dimaksud. Informasi yang diterima akurat. Di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Batu 3, Jalan MT Haryono, suasana ketika itu nampak ramai. Mata-mata orang disana tertuju pada sekelompok pria berambut cepak merengsek mendesak seorang pria berpakaian seragam sekuriti.
"Waktu samapai di sana, pas sekuriti sedang dipukuli," kata Hengky.
Otak wartawannya bekerja. Tanpa menunggu lama, ia segera mengeluarkan senjatanya, berupa handycamp dari dalam tas, dan langsung mengarahkannya ke pengeroyokan yang sedang terjadi itu. Tiap adegan dia rekam.
Tapi, Hengky bekerja tidak sampai lama. Beberapa orang kemudian mendekatinya. Sebelum menjadi sasaran amukan, Hengky sempat menjelaskan kalau dirinya adalah wartawan. Tapi, orang-orang emosi yang tida diingat jumlahnya oleh Hengky kemudian menyarangnya.
Pukulan demi pukulan dia terima. Demikian juga dengan tendangan. Menurut Hengky, ketika itu dia benar-benar menjadi bulan-bulanan. Dia mengaku juga diinjak-injak.
Hengky benar-benar tidak dapat berbuat banyak. Dia bahkan tidak sadar kalau handycamp miliknya hilang. Dia baru menyadarinya setelah pengeroyoknya yang hanya diingatnya berjumlah banyak itu pergi meninggalkannya.
Yang dirasanya saat itu adalah rasa sakit disekujur tubuh. Mata kanannya memerah, dahi dan bawah mata kirinya robek. Sementara mulutunya nyonyor akibat dihujani pukulan.
"Aku tak tahu apa kawan-kawan yang berada dibelakang, melihat (saya dikeroyok). Soalnya mereka cukup jauh tinggal di belakang," ujar Hengky.
Putra, stringer Indosiar yang bersama Hengky berangkat, mengaku tidak sempat menjumpai Hengky dikeroyok. Sesampainya dia di SPBU Batu tiga, suasana memang ramai. Tapi, orang-orang yang mengeroyok Hengky telah pergi.
"Aku tertinggal jauh. Motorku tidak bisa mengejar. Aku tertinggal mulai dari Batu Delapan," kata Putra.
Usai mengalami kejadian tersebut, Hengky kemudian melaporkan kejadian yang dia alami ke Mapolsekta Bukit Bestari. Tak lama di sana, beberapa petugas intel, serta Polisi Militer dari Pangkalan Utama Angkatan Laut (Lantamal) Wilayah IV datang. Hengky, Ismail (operator SPBU), dan Udin Syamsudin (petugas sekuriti), dibawa petugas tersebut ke Markas POMAL di Jalan Merdeka, untuk dimintai keterangannya.


*Kejadian yang dialami Hengky bagi saya perlu dijadikan pembelajaran. Tidak menutup kemungkinan bagi saya, dan rekan-rekan jurnalis yang lain akan mengalami hal yang sama. Dia bisa jadi wartawan yang punya harapan mendapatkan pemberitaan yang bagus, gambar yang baik. Kejadian ini bisa menjadi guru untuk kita lebih berhati-hati damal bertugas. Dimana keselamatan diri adalah sesuatu yang tidak bisa dinafikan sesuatu hal yang penting. Dengan selamat, kita bisa menentukan langkah selanjutnya. Membuat laporan, tanpa mengalami cedera.

Kamis, 18 September 2008

Surat Untuk Anakku


Selamat Ulang Tahun Nak…

Setahun lalu, sebelum 19 September 2007, aku belumlah Abi (bapak dalam bahasa Arab). Kasih belum terbagi banyak. Nyaris semua untuk Ummi (Ibu). Setelah tanggal itu, semua berubah nak. Di hari itu kamu yang Abi beri nama Bintang Fajar Ramadhan, lahir. Status, suasana, berubah. Termasuk kasih Abi terhadap Ummi-mu.

Bintang…
Tak hanya kami ingin kau kelak menjadi terang, tinggi
Lebih dari itu, kami ingin kau juga menerangi apa yang ada disekitarmu
Meninggikan orang disekitarmu

Tak terasa menetes air mata ketika kau lahir
Bukan sekedar bangga nak..
Lebih dari itu, kami ingat dosa kami kepada kakek dan nenek mu

Begitu tergambar bagaimana wajah Ummi disaat berjuang melahirkanmu
Keringat berpeluh, wajah begitu padam menahan sakit
Begitu terbayang perasaan yang dirasa kedua orang tua kami dulu

Asa serta cita-cita untuk kami sejak itu terputus sudah
Asa dan cita-cita itu milik mu
Membesarkan mu, membuat kamu terang seperti nama mu…

Besarlah nak
Di usia setahunmu ini kamu sudah bisa berdiri
Kepandaian itu berkat usahamu
Kami hanya membimbing
Demikian untuk nanti-nati

Besarlah nak
Terang, menyongsong hidup, dengan kesucian serta ketulusan
Bintang Fajar Ramadhan

Selamat Ulang Tahun Nak (19 September 2008)