Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Senin, 23 Maret 2009

Hanya Memuji


"Oh lihatlah... lihat dia yang sedang duduk bersandar di kursi itu. Aku rela jika ditakdirkan hidup
menjadi pohon, kemudian dibelah menjadi papan untuk bahan dinding kursi yang dia duduki. Aku ingin merasakan nyaman menopang bahunya, mencium aroma harum rambutnya, mengusap halus kulitnya."

Aku pernah merasakan indahnya cinta dari seorang teman. Terus terang aku banyak belajar dari dia. Tentang bagaimana mengartikan dan memahami kata cinta.

Badrun. Ia teman sejak di semester satu bangku kuliah. Orangnya tampan mempesona. Tubuhnya non kolesterol, asli bentuk atletis. Dia sungguh pandai memainkan kata. Kiasan cinta itu sedemikian rupa dirangkai sehingga indah. Wajar saja jika gadis kampus banyak yang menyukainya. Selama ini, aku hanya bisa bersikap iri di hati yang selama ini ku besar-besarkan saja. Kedengkian menyemut di batin.

Kendati demikian, Si Badrun bukan tipe orang yang suka memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Ia sangat tahu bagaimana menjaga perasaan wanita. Mulutnya akan berucap lihai. Para wanita akan terperangah mendengar kata-kata penolakan halusnya.

Tapi, belakangan aku menyadari pribadi Badrun sebenarnya. Bahwa ucapan, kata-kata indah dari mulutnya yang selama ini ku dengar, hanya akan mengalir deras kepada wanita yang tidak disukainya.

Belum lama ini, hati Badrun berpaut kepada mahasiswi fakultas kedokteran. Namanya Ratna. Wajahnya putih berseri laksana mega. Otaknya encer. Itu aku tahu persis. Di papan pengumuman, namanya tertera sebagai peraih IPK tertinggi.

Apa kata Badrun tentang dia: "Apakah kau pernah menyaksikan Paris dari puncak Eifel? Itulah Ratna. Dia begitu indah dipandang. Tapi terlalu jauh untuk aku sampai di sana."

"Lantas, kenapa kau tak terjun saja supaya kau cepat sampai?"

"Kamu tidak mengerti. Tentunya aku tidak mungkin mau mati sia-sia dengan menuruti saranmu itu. Aku perlu alat. Ya, semacam permadani terbang yang bisa mendaratkan tubuh dengan mulus ke pelataran kota."

"Maksudmu?"

"He he he... aku butuh kamu sebagai alatku. Aku mengharap kamu bisa menyampaikan pesan perasaanku kepadanya."

Otak kiri ku makin keras bekerja. Mencoba menyerap apa yang disampaikan Badrun barusan.

"Maksudnya, kau ingin aku datang kepada Ratna, dan memberitahukan kepadanya kalau kau suka dia."

"Yap... tepat. Kau ternyata dapat membaca fikiranku."

"Tapi tidak untuk saat ini. Aku tak ingin main langsung begitu saja. Bertahap, tidak langsung main tembak. Aku ingin Ratna terlebih dahulu mengagumiku. Merasakan sedikit tetesan mata air cinta ini."

Sejenak Badrun menghentikan ucapannya. Berjarak sekitar 100 meter di hadapan, Ratna terlihat berjalan kemudian duduk di bangku kayu terletak di tengah taman. Bias cahaya menerpa wajahnya. Rambut lurusya tersibak menutupi bahunya sebelah.

"Oh lihatlah... lihat dia yang sedang duduk bersandar di kursi itu. Aku rela jika ditakdirkan hidup menjadi pohon, kemudian dibelah menjadi papan untuk bahan dinding kursi yang dia duduki. Aku ingin merasakan nyaman menopang bahunya, mencium aroma harum rambutnya, mengusap halus kulitnya."

"Dan coba kau lihat mantel yang dipakainya itu. Oh, andai saja aku terlahir sebagai domba, kan kurelakan si penenun mencukuri bulu-buluku untuk dibuatkan seribu mantel supaya aku selalu dapat menghangatkannya,"

"Tapi kau tak sepenuhnya cinta kepadanya Badrun."

"Siapa bilang? Aku adalah seorang quarterback sejati. Kujaga setiap inci ke incinya rasa cinta ini. Akan banyak hal yang akan menjaga, menjagal setiap yang berusaha meruntuhkan dinding pertahananku. Ya, akan ku jaga meski memang segalanya akan berubah. Akan ku raih kemenangan itu untuknya."

"Tapi engkau quarterback yang bingung harus melempar atau membawa bola hingga mencapai touchdown. Kau tak berpendirian, tak bisa dipakai. Jika kau quarterback sejati, ayo! teroboslah rintangan di hadapanmu. Hantam kemelut malu itu. Langkahkan kakimu berlari. Tapakkan kedua kakimu berdiri di hadapannya."

"Ayolah Badrun, tunjukkanlah rasa itu kepadanya. Sampaikanlah kalimat-kalimat pamungkasmu. Jika kau lupa syair tentang asmara, tak payah soal itu. Cukup kau katakan saja: "Oh Ratna.. Aku mencintaimu".

Tapi Badrun tetaplah dia yang takut kepada wanita yang ia suka. Apa yang ku katakan, baginya bak monster saja. Ia hanya berani menatap, melepaskan pandang kekaguman. Ya, dia laksana pemanah yang tak bisa melepaskan busur ke sasaran. Panah itu diarahkan kepadaku. Dia ingin aku yang melesatkan busur asmara itu.

Sobat, ikatan itu yang membuat aku rela berkata iya akan membantu. Bukan main senangnya Badrun ketika. "Ente memang best friend," katanya. Diraihnya secarik kertas. Tersenyum sumringah bibirnya menorehkan ujung pena ke kertas warna merah muda. Sesekali dia mengernyitkan dahi berfikir entah apa. Aku hanya duduk memandang heran.

"Ini. Tolong engkau sampaikan. Aku tak sabar dia membacanya."

Badrun lantas pergi. Ia nampaka begitu bahagianya. Berjingkrak kecil di jalan beton setapak kampus, lalu menghilang di antara kerumunan mahasiswa lain yang berlagak sibuk. Aku tersenyum. Secarik kertas tanpa nama pengirim yang tadinya dilipat, perlahan ku buka lalu ku baca.

Luar biasa. Sangat sempurna Badrun menggambarkan keindahan Ratna. Kertas itu kembali ku lipat kemudian masuk saku. Sejenak kemudian, aku bersandar di bangku. Wajah Ratna melintas di anganku. Oh, dia memang indah. Indah laksana embun pagi di ujung daun. Kecil, namun hadirnya begitu berarti bagi helai rerumput. Keindahannya juga laksana permata melekat di lengkungan cincin. Ratna, kau memang indah hingga aku tak bisa mengungkapkannya. Andai saja aku bisa melukiskan keindahan Ratna seperti apa yang dilakukan Badrun.

Entah sudah berapa banyak lembaran kertas berisi kata pujangga yang diberikan Badrun kepadaku. Sebanyak jumlah kertas itu pula, aku dan Ratna bertemu. Bercengkrama, bersendagurau, membuat kami kian akrab. Aku merasa intim.

Sementara Badrun, tetaplah sebagai pemuja sejati. Ketika gelak tawa kami pecah di atas bangku taman kampus, Badrun hanya mampu berdiri diantara pokok kayu rindang. Ia hanya berani memandang. Entah di fikirannya apa. Badrun demikian, aku dan Ratna tenggelam, hanyut dalam senda gurau.

"Bagaimana perkembangannya. Apa yang dia katakan tentang surat-surat itu. Sukakah ia. Ayolah cepat kau katakan kepadaku."

"Suka. Ya, dia nampak begitu bahagia larut bersama kata-kata yang kau tulis."

"Terus, apa katanya. Cintakah ia kepadaku?"

"Oh, aku tak tahu soal itu. Bukankah kau bilang bertahap. Bukankah katamu kau akan menembaknya jika Ratna sudah menunjukkan respon."

"Jadi, menurutmu saat ini waktu yang tepat untuk aku menunjukkan siapa sebenarnya aku."

"Iya. Menurutku malah bukan saat ini. Semestinya sedari rasa di hatimu itu muncul."

“Ah, nantilah bro. Aku masih ingin dia menyadari keindahannya dari syair-syairku.”

Demikianlah Badrun. Dia sudah merasa bahagia dengan Ratna mengagumi kata-katanya. Terus terang aku sedih jika mengingat dia. Belakangan dia sudah tidak lagi menuliskan syair terindahnya kepada Ratna. Kata-kata itu, kini terendap dalam di batinnya. Rasa itu sudah dia kubur dalam-dalam. Kata cinta dianggapnya barang najis. Dicampakkan, diinjak-injak laksana sesuatu yang tak berharga.

Dia kini memilih berucap enggan di saat aku mengajaknya berjumpa untuk jalan bersama entah melakukaan aktifitas apalah. Kalau pun mau, aku merasakan sebuah keterpaksaan. Badrun lebih banyak diam. Nyaris tak ada lagi semangat. Bergulir dengan waktu, hubungan kami semakin renggang saja. Hingga akhirnya, antara kami kini sudah tidak terjalin ikatan persahabatan lagi. Entah mengapa, semakin lama Badrun merasa aku sebagai orang asing. Demikian perasaanku kepadanya.

Belum lama ini, aku menyadari mengapa dia sangat-sangat marah. Sebulan yang lalu, dia ternyata sadar jika ternyata syair yang dia rangkai indah di kertas merah muda itu sia-sia belaka. Ratna ternyata meyakini kalan pendekar penyair di kertas itu adalah aku.

Aku merasa sedih harus kehilangan kawan. Aku merasa bersalah kenapa aku tak berterus terang jika ternyata syair-syair indah itu merupakan buah perasaan Badrun.

Selasa, 24 Februari 2009

Cerpen: Lonceng Terakhir



Percikan api dari gulungan tembakau tertiup angin masuk ke lipatan keriput mata Pak Kadir. Pria sudah baya itu menggeliat. Matanya memicing perih berair. Mulutnya menganga nyeri mengepulkan asap putih.

“Ha ha ha… Bapak memang sudah tua. Anak api itu tak bisa dinampaki. Padahal dekat sekali dengan bola mata Bapak."

Pak Kadir terbahak. Tangannya mengusap mata yang tadi perih. Dia balas guyon itu dengan senyuman ringan saja.

“Mas Ihsan pandai saja kalau bercanda.”

Mereka kini terbahak bersama di sela tengah malam itu.

Udara mulai terasa dingin. Angin pembawa embun sejuk bertiup menusuk pori-pori. Ihsan melipat ujung jaket beludrunya lalu mendekapkan kedua tangan ke sela ketiak.

“Sebentar lagi sepertinya akan turun hujan Pak,” katanya.

Pak Kadir mengangguk. Matanya menoleh langit sembari menyalakan korek api membakar sampah, menumpuknya dengan kayu bakar, lalu tak lama jadilah api unggun.

“Saya meminta jangan sampai hujan Mas. Nanti makin enak saja maling bergentayangan,” katanya.

Atas alasan itulah Ihsan dalam sepekan ini menemani Pak Kadir di pos kamling. Tengah malam pekan lalu, perumahan tempat Ihsan tinggal riuh dengan suara dentang benda keras yang diadu dengan tiang listrik. Warga perumahan sudah faham tanda suara itu. Dentang yang ditabuh beruntun dengan tempo cepat tak beraturan, merupakan pemberitahuan tanda bahaya.

Warga di sana lekas keluar rumah. Tak ketinggalan pula Ihsan. Mendengar suara itu, cepat dia turun dari peraduan lalu ligat meraih daun pintu dengan sedikit berlari. Di depan rumahnya dia melihat Pak Kadir berdiri bertolak pinggang mengacungkan pentungan ke arah dua pria yang nampak samar berlari di ujung gerbang lalu menghilang ditelan gelap.

"Ada apa Pak?"
"Tadi saya memergoki dua laki-laki sedang mencongkel jendela samping rumah Mas Ihsan. Mereka bercadar."

Lekas Ihsan melangkah menuju jendela yang ditunjuk Pak Kadir. Daun jendela belum terbuka. Namun, di kusennya jelas dinampaki goresan bekas congkelan benda keras.

"Dia pakai linggis. Yang satu lagi pegang parang,"

Suara itu memecah konsentrasi Ihsan. Ditatapnya Pak Kadir yang berdiri sekitar satu tombak di sampingnya. Nafas pria tua itu didengarnya terengah. Dadanya naik turun sebagai pertanda kalau dia baru saja mengeluarkan tenaga ekstra.

"Tangan Bapak berdarah."
"Tidak kenapa Mas. Cuma goresan kecil."
"Tidak pak. Ini tidak bisa dibiarkan. Bapak harus diobati,"

Di luar pagar, satu persatu tetangga mulai ramai. Mereka tak perlu bertanya ada apa. Dengan melihat yang Ihsan perbuat serta apa yang dibicarakan dengan Pak Kadir tadi, mereka sudah tahu apa yang terjadi.

"Kita harus melapor polisi," kata Ketua RT kepada Ihsan.
"Iya Pak. Tapi saya harus mengantar Pak Kadir berobat dulu. Lukanya cukup serius. Soal itu, mungkin Saya bisa minta tolong Bapak menelepon teman Saya yang bertugas di Polsek Tanjungpinang Timur. Seingat saya, dia sedang bertugas malam ini."
"Oh iya. Biar saya lakukan. Akan saya kabarkan tentang apa yang terjadi ini."

Ihsan kemudian meminta istrinya mengambilkan hand phone, dompet, serta kunci mobil. Segera dibawanya Pak Kadir ke klinik terdekat setelah sebelumnya memberihan nomor selular milik temannya ke Ketua RT.

Ihsan merasa risau. Tangan Pak kadir makin banyak mengeluarkan darah. Tapi pria tua itu cukup beruntung karena parang pencuri tak sampai memutuskan lengan.

"Lukanya cukup dalam Pak. Tapi tak apa. Dengan sedikit jahitan, luka ini tak lama akan kering," kata perawat yang mengobati Pak Kadir.

Ihsan merasa sedikit lega dengan keterangan itu. Setelah menyelesaikan administrasi pengobatan, mereka pun pulang.

"Malam ini, Bapak menginap di rumah saya saja. Nanti saya usulkan kepada Pak RT supaya pemuda perumahan kita disiagakan melakukan ronda malam ini."

Pak Kadir mengangguk. "Trimakasih," katanya.

Dari kejauhan, di depan rumah, Ihsan melihat terparkir mobil patroli polisi. Rekan polisi yang dimitanya dihubungi tadi, terlihat bercengkrama bersama Ketua RT dengan ditemani sang istri.

Ihsan dan Pak Kadir disambut meraka. Sementara itu, beberapa petugas polisi lainnya nampak sibuk melakukan proses identifikasi, memoles bubuk hitam ke kusen dan jendela, mencari letak yang dimungkinkan sidik jari si pencuri tertinggal.

Pak Kadir kemudian diperislahkan duduk. Polisi lalu memintai keterangannya. Dia ditanyai soal seperti apa ciri kedua pelaku, sampai bagaimana dia bisa terluka.

"Saya tidak melihat jelas wajahnya. Mereka pakai cadar. Waktu saya pergoki, yang memegang parang itu menyerang saya membabi buta. Parang tadinya dikibaskan ke arah badan. Untung saya sempat menangkis dengan pentungan ini. Tapi tetap saja ujung parang mengenai lengan saya."

Pak kadir bercerita panjang lebar tentang apa saja yang ia ketahui. Tentang apa saja yang dibutuhkan polisi sebagai bahan penyelidikan, sampai bagaimana dia juga berhasil menyarangkan satu pukulan pentungan yang menurutnya mendarat keras ke kepala orang yang melukainya tadi.

"Trimakasih Pak. Kami akan menghubungi Bapak lagi jika ada perkembangan penyelidikan, atau kami akan datang kalau ada keterangan tambahan yang kami butuhkan dari Bapak,"

Petugas kepolisian itu pun kemudian pergi.

"Trimakasih Pak. Bapak sangat berjasa. Tidak dapat saya bayangkan apa yang kemudian terjadi kalau saja kedua orang tadi berhasil masuk ke dalam rumah."

Ihsan kemudian berfikiran macam-macam. Berfikir berbagai kemungkinan andai saja dua maling tadi berhasil masuk rumah. Bisa saja ia dilukai. Bisa saja anak dan istrinya disandera dan....

"Ah, tak perlu sampai berterimakasih Mas. Ini sudah kewajiban saya. Saya diberi upah bulanan oleh warga memang untuk menjaga keamanan perumahan ini."

Ihsan tak berkata apa-apa lagi. Baginya Pak Kadir tetap saja sebagai pahlawan. Pahlawan yang menyelamatkan apa yang dimungkinkannya bisa saja terjadi.

Malam itu, Pak Kadir menginap di rumahnya. Ihsan bahkan mempersilahkan pahlawannya itu untuk tinggal di rumahnya berapa lama saja yang Pak Kadir mau.

Tapi Pak Kadir tidak seperti itu. Pria tua yang terdampar setelah gagal menjadi TKI di Malaysia itu, menyatakan lebih kerasan tinggal di pos kamling yang menjadi rumahnya sejak tiga tahun lalu.

"Saya tidak bisa memaksa Bapak. Tapi, kalaulah Bapak sedianya ingin pulang ke Jawa untuk berkumpul dengan keluarga di sana, saya siap membantu,"
"Trimakasih Mas. Tapi di Jawa saya tidak punya keluarga lagi. Istri saya sudah meninggal. Anak lelaki saya tak tahu sekarang ini dimana. Terakhir, saya dengar dia ada di Malaysia. Jadi pekerja gelap."

Sejak kejadian itulah hubungan Ihsan dan Pak Kadir kian akrab. Setiap malam, setelah ia pulang ke rumah, Ihsan selalu menyempatkan diri menemani Pak Kadir yang selanjutnya memutuskan kembali berjaga malam lagi. Secangkir kopi dan beberapa penganan kecil, sering kali menghantar keduanya mengobrol hingga malam menjadi larut.

Malam itu, angin makin bertiup kencang. Apa yang diramalkan Ihsan, dan apa yang dikhawatirkan Pak Kadir, akhirnya datang juga. Satu perstu rinai hujan turun. Makin lama gemericiknya kian besar saja. Tanah yang tadinya kering kini menjadi becek.

"Hujannya makin lebat Pak. Saya pamit pulang dulu. Malam ini nampaknya akan semakin dingin. Sebaiknya bapak menggunakan pakaian hangat. Satu lagi, hati-hati,"

Ihsan bergegas pergi. Sempat dilihatnya Pak Kadir tersenyum berdiri di pintu pos kamling menghantarnya pulang. Dalam waktu yang tidak lama, Ihsan sampai di rumah. Di dalam kamar, istrinya dilihat sudah terlelap memeluk anak lelaki mereka yang usianya baru 8 bulan. Ia lalu naik ke peraduan. Istrinya terbangun sempat bertanya bagaimana Pak Kadir. Ihsan tersenyum.

"Baik. Tidurlah. Besok abang mesti berangkat pagi-pagi. Di kantor ada meeting," katanya.

Udara dingin itu membuat Ihsan makin mengantuk. Diantara gemericik hujan yang jatuh di atap, ia dengar suara lonceng. Dentangnya dua kali. Dari pos kamling sana, Pak Kadir memberi tahunya saat itu sudah pukul 02.00. Ihsan pun tak lama kemudian larut dalam mimpi buai malam.

*

Pagi-pagi benar Ihsan sudah bangun. Sang istri dilihatnya sibuk di dapur menyiapkan sarapan bagi mereka. Langkahnya ke kamar mandi tiba-tiba terhenti, ketika didengarnya teriakan tergesa seorang pemuda di luar pagar.

"Pak Ihsan...." suara itu terbata memanggilnya. Ihsan melangkah cepat menuju asal suara.

"Pak Kadir...!"
"Ada apa dengan Pak Kadir?"
"Pak Kadir.... dia.... dia...."

Pemuda itu tak dapat berkata lain selain menyebut nama lelaki yang sejak sepekan lalu dianggap Ihsan sebagai pahlawan itu. Dengan terengah-engah, pemuda itu berkali-kali menunjuk ke arah pos kamling.

Tak harus menunggu penjelasan lagi, Ihsan lekas berlari ke arah yang dimaksud. Dilihatnya di sana ramai kerumunan orang. Garis polisi berwarna kuning dilihatnya membentang mengelilingi sosok tubuh tua tertelungkup basah di atas tanah.

Disaksikannya tubuh Pak Kadir bagai jasad tak berguna bersimbah darah. Luka menganga di sana sini. Wajah keriput itu begitu pucat begitu kaku. Ihsan menangis.

"Dia dibunuh. Saya barusan dikabari, salah seorang pelakunya sudah ditangkap. Dia orang yang berhasil dilukai Pak Kadir waktu akan masuk ke rumahmu dulu. Yang sabar. Mudah-mudahan kami berhasil menangkap satu pelaku lain."
"Dimana kamu malam tadi?"

Ihsan kian menangis mendengar keterangan temannya yang polisi itu.

"Oh.... terakhir saya mendengar beliau membunyikan lonceng jam dua pagi tadi,"

(Tanjungpinang, 24 Febuari 2009)

Kamis, 22 Januari 2009

Cerpen


Perjaka Subandi
cepren Andri Mediansyah

Suara tetabuh musik Melayu riuh di luar. Saat itu, akhir Desember 2008. Kakak-adik, paman-bibi, keponakan-keponakan, tetangga, kerabat serta sahabat, wajahnya riang menatap kami: aku dan wanita yang akhirnya dengan bangga kupersunting. "Akhirnya kamu menikah. Akhirnya keperjakaanmu pecah juga." Ah, mereka tak tahu dibalik senyum sebenarnya aku galau.


Namaku Subandi, lahir 45 tahun lalu. Sudah terbilang baya untuk duduk di pelaminan dengan pesta yang cukup meriah. Tapi tak apalah, terserah apa kata mereka .Toh ini pernikahanku yang pertama dan pasti untuk yang terakhir.

Usiaku sudah usang. Tubuh lebih banyak lunglai, mungkin mendekati sekarat. Tapi aku bangga berada di lingkungan orang-orang berperhatian. Meyakinkan bahwa aku masih layak punya pendamping hidup, menghalau agar tak lagi menjadi cemooh "Subandi Perjaka Tua". Emak, kakak-adik, paman-bibi, keponakan-keponakan, tetangga, kerabat serta sahabat, selama ini bertanya: "Kenapa kamu lebih pilih membujang?"

*
Suatu hari 30 tahun lalu, aku pernah jatuh cinta kepada wanita yang sebenarnya tidak pantas dicinta. Dia jauh lebih tua dari usiaku yang baru lima belas. Rasa yang tidak pantas karena dia berstatus istri orang.

"Nak mampus kau"

Emak sangat marah tiap kali memergoki aku mengintip wanita itu. Dari balik jendela rumah, atau dari celah kamar mandinya. Emak tahu benar kalau aku suka dia.

"Kenapa kamu suka dia?"

Jawabku ringan saja. Dia cantik. Liuk tubuhnya bahenol. Bibirnya sensual. Aku suka, aku terangsang hingga terkadang bermimpi senggama. “Celaka!” memang. Tapi bagaimana lagi, aku tak kuasa melawan rasa. Cinta ini membelenggu, membalut hati, menggelapkan pandangan.

Sampai suatu hari, aku sangat-sangat marah kepada wanita itu. Dia mencemooh cintaku. Dia tarik tanganku melekat di pakaian memebungkus payudara miliknya. "Kamu ingin cintaku atau ingin ini? Sudahlah, kamu masih kecil. Tau apa soal cinta. Pulanglah kepada ibumu dan meneteklah."

Sial, dia buat hatiku koyak. Panah yang menancap di hati dicabutnya lalu ditancapkan berulang-ulang. Hatiku berkecai buyar. Lari ke gunung, lembah, ngarai, laut, ke dalam gua, sakitnya tak terobatkan. Terbang ke awan, justru yang kulihat hamparan kekecewaan. Aku marah. Dengan apa sakit ini kulampiaskan.

Oh, rupanya ada tempat yang akhirnya membuatku bahagia. Tempat yang mampu meredam amarah darah emosi muda. Satu tempat bernama sarang wanita bejuluk kupu-kupu malam. Di sana malam-malam banyak kuhabiskan. Bersenggama di balik kamar berukuran empat kali empat, bercinta dengan wanita yang dapat sesukaku melampiaskan rasa meski semalam.

Ho ho ho...! Aku bahagia, aku tertawa dalam keperkasaan. Cinta ternyata bisa dibeli. Aku lupa kepada wanita yang kucinta namun bikin sakit hati. Lantaklah. Aku tak peduli lagi pada kesehatan kelamin. Di pikiranku hanya bagaimana nafsu syahwat terlampiaskan. Itu saja. Sampai-sampai aku enggan gunakan pengaman ketika berhubungan badan. Daging bersentuhan langsung dengan daging.

Dan begitulah, usiaku matang ketika aku masih mengkal. Entah berapa banyak wanita yang sudah terlelap di dekapan dada. Sejak itu hari-hari siangku banyak habis bersama kuli pelabuhan atau pengojek di pangkalan. Begitu getolnya aku mencari uang bersama mereka. Sekolah tak lagi jadi prioritas. Lebih banyak bolos hingga akhirnya kuputuskan berhenti saja.

Awalnya emak melarang. "Bagaimana masa depanmu nak. Kamu mau jadi apa." demikian kata beliau. Tapi nasihat emak itu kuanggap angin lalu saja. Jalani saja apa kusuka. Pada prinsifnya takdir manusia telah ditetapkan. Kalau nantinya aku jadi miskin, itu konsekuensi. Itu garisan nasib.

Kekecewaan emak terhadap keputusanku itu terendap lama. Sampai akhirnya rasa di benak beliau pudar setelah aku dipercaya menjadi supir pribadi bos real estate ternama. Gaji bulanan sebagian dijatah buat emak. Yang namanya seseran, itu jatahnya nona-nona malam. Bersenggama itu hal yang tak dapat ditinggalkan. Rutin menjadi agenda mingguan.

Tapi prilaku ini tak banyak orang tahu. Emak, kakak- adik, paman-bibi, keponakan-keponakan, tetangga, kerabat serta sahabat, mereka mengaggap aku ini tetap sebagai perjaka ting ting. Oh, aku kian terlena saja. Bagaimana tidak, aku dicap lajang tua penjaga kesucian.

*

Usiaku 44 tahun ketika akhir hayat emak tiba. Beliau wafat di pangkuanku. Aku menangis ketika emak berbisik. “Menikahlah. Nikahi Sumarni. Dia perempuan baik-baik. Menikahlah”. Oh, aku tak dapat bersuara menjawab iya. Anggukanku akhirnya menghantar ruh emak lepas dari kerongkongan. Beliau pergi dengan tenang bersama bebanku.

“Mak, pergilah dengan damai ke haribaanya. Janji itu akan ku tunaikan. Tak lama anakmu yang nakal ini akan datang mempersunting wanita yang menjadi amanahmu. Mak, doakan aku. ”

Aku pergi meninggalkan kuburan emak yang masih basah sore itu.

*
Sumarni, dia wanita ayu perawan ting ting bunga desa. Usianya tak berpaut jauh dariku. Bukan karena tabiatnya tak betul yang membuat dia tak laku hingga usia kepala empat. Status dan prilaku yang membuat pria selama ini ngeri mendekat. Dia keturunan orang terpandang serta terpelihara. Hanya nasibnya yang sedikit sama seperti aku. Orang tunya belum lama meninggal di Padang Arafah ketika menunaikan ibadah suci yang ketiga.

Sumarni, dia ibarat teratai. Indah diantara kubangan, berkilau diantara pekatnya lumpur. Giginya putih berkilau tersusun rapat diapit sepasang bibir tipis merah marun. Aku terkesima. Senyum itu dia lemparkan masuk melesat ke lubuk hati. Senyum itu lalu membuat lubang di sana. Rasa yang pada 30 tahun silam berserak buyar, satu persatu dikumpulkannya. Senyum itu pula yang membuat keraguan sirna.

Sumarni, kau membuat aku jatuh cinta. Kau bersihkan jalan perasaan, menyibaknya hingga alam mimpi. Kau ada di saat aku tak sadar dalam lelap tidur malam. Kau datang ketika pagi laksana sinar mentari menyusup celah jendela kaca. Sumarni, sudilah kiranya ku bagi hati ini untuk mu. Sudilah engkau menenggak manis kasmaran ini bersamaku. Sumarni, terimalah aku sebagai suamimu.

Sejak melihat engkau, padamu jua perahu ini kutambatkan. Yakinlah perahu itu kan bersandar lama di sana. Talinya akan kuikat dengan simpul erat di dermaga hatimu. Angin kencang, bahkan gulungan ombak yang datang nantinta tak kan kuasa menyeret perahu itu. Sumarni, jangan kau biarkan perahu itu mengambang tanpa isi. Mari engkau naik ke sini bersamaku. Kita arungi samudera ini. Kita belah badai yang mendera nanti.

*

Tepat seratus hari usai kepergian emak, ku utuslah kakak tertua pergi melamar Sumarni.

“Kamu harus ikut Subandi,”
“Tidaklah kak. Mana berani aku ke sana. Dengkulku gemetaran melihat dia. Nanti aku demam. Tidaklah. Biar kalian saja yang ke sana. Iya kalau diterima. Kalau tidak, bisa mampus aku kak. Nanti di kubur sana emak bisa marah habis-habisan karena aku tak menunaikan amanahnya. Sudahlah kak, pergilah kalian saja.”
“Akh, banci kau Subandi. Kan kau sudah pernah jalan sama dia. Tentulah dia tahu kalau kau suka dia.”
“Kak, aku tak berani ngomong soal cinta kepadanya.”
“Jadi apa yang kalian obrolkan?”
“Tak ada.”
“Ya ampun. Jadi kalian cuma….”
“Ya… cuma saling diam. Aku lebih banyak memandang dari pada bicara.”

Wajahku merah. Kakak lalu berkemas pergi bersama rombongan. Di rumah aku duduk, berharap, dan menanti kabar yang mudah-mudahan baik.

*

Ucapan selamat terus mengalir dari tetamu yang hadir di pesta pernikahan kami. Aku bahagia, sebahagia Sumarni yang bersanding bersamaku mesra. Tak terbayang olehku hari ini akan datang. Kakak-adik, paman-bibi, tetangga, kerabat serta sahabat , mereka datang memberi canda: “Subandi jangan lupa berdoa sebelum menunaikan hajat malam pertama nanti.”

Aku hanya diam, malu. Pun demikian Sumarni. Pipinya merah merona. Lengannya menyikut rusukku mesra. Kami lalu tersungging bersama mengeluarkan suara yang rasanya renyah. Sepanjang hari ini, rasanya bahagia serta juga melelahkan.

Waktu pun merangkak senja. Aku dan Sumarni tak lagi mengenakan pakaian kebesaran “raja dan ratu sehari". Kami berdua berdiri di teras menghantar dua tamu yang datang belakangan. Teknisi organ tunggal penghibur pesta pernikahan sibuk menggulung kabel. Perangkat sound sistem setinggi orang sudah diangkut ke pick up diparkir di halaman. Tak lama lagi sepi. Panitia pernikahan sudah selesai menyingkirkan kursi. Satu per satu kerabat serta sahabat pergi. Tak lama lagi, hanya beberapa jam saja aku dan Sumarni akan berdua di dalam kamar pengantin berhias warna warni. Oh… tak lama lagi waktu itu tiba.

Untuk pertama kalinya sepanjang hidup, aku menjadi imam dalam shalat. Shalat maghrib itu ditunaikan dengan aku tampil sebagai pemimpin. Dalam shalat aku bersyukur. Usai shalat aku panjatkan doa tertuju kepada emak. Kunyatakan bahwa aku telah menunaikan amanahnya. Ku harapkan emak bahagia mendengarkan doa. Tenanglah ia di alam baka sana.

Malam itu juga, kami berdua menyantap makan bersama. Tidak yang pertama. Ini yang kedua setelah waktu pertama berkenalan dulu. Romantis, makan malam itu kami benar-benar diperlakukan bak raja dan ratu. Kakak dan adik-adik melarang Sumarni untuk melakukan pekerjaan rumah apa pun. Tidak meski hanya mengkat piring ke dapur.

“Hari ini kamu santai dulu. Biarkan kami,” Itu kata kakak setiap kali Sumarni berusaha meraih piring atau kain lap untuk membersihkan meja makan. Sumarni mengangguk iya. Dilihatnya aku yang duduk disampingnya. Dia tersenyum melihat anggukanku. Oh, senyumnya itu begitu indah. Indah laksana prilakunya. Sangat ku sesalkan kenapa dia mesti menikah dengan aku yang sekarang ini.

Kami lalu meninggalkan meja makan, bergegas pergi ke ruang tamu yang telah menunggu tetua keluarga. Tubuhku terasa sangat lelah. Sempoyongan rasanya hendak pingsan. Tak konsen lagi aku mendengar petuah perkawinan dari mereka. Keringat menjagung keluar dari celah kulit ari. Suara-suara itu terasa bergentayang di telinga. Pun demikian pandangan. Aku lemas. Tubuh ku sandarkan di bantalan kursi sofa.

*

Di dalam kamar kami berdua. Dingin, dingin sekali. Sedingin sikap aku dan Sumarni yang baru kunikahi pagi tadi. Tak ada bahasa yang berujar. Sumarni duduk di depan meja rias, aku berbaring di ranjang. Ku tarik selimut berwarna gelap yang terlipat rapi di ujung kaki. Kurekapkan tubuhku yang makin menggigil. Dunia gelap. Aku tak sadarkan diri.

*

Tiga hari kemudian, aku terbangun. Ku lihat Sumarni, kakak-adik, paman-bibi, keponakan-keponakan, tetangga, kerabat serta sahabat, menangis. Tubuhku melayang. Terkejut kulihat emak berada di sampingku. Ia tersenyum. Katanya ia bangga karena aku telah menunaikan harapannya. Ku toleh lagi ke hadapan. Jantungku berdegap kencang. Di pembaringan itu tubuhku. Sumarni mengelus-elus kepalaku. Yang lain kusaksikan masih saja menangis. "Oh Subandi, rupanya kamu tidak perjaka lagi."

Oh, kini aku ikut menangis. Aku ingin menyampaikan kata kepada mereka. "Maaf... maafkan aku. Selama ini memang kusembunyikan Si Raja Singa ini."


Tanjungpinang, 23 Januari 2009

Minggu, 14 Desember 2008

Cerpen


Halusinasi Negatif

Oh!” aku tak sanggup menahan suara. Dada menyesak, menggumpal menyumbat kerongkongan. Oh! Air tubuhku seolah pecah. Mengalir melalui pupil, tembus rongga hidung lalu jatuh di bibir. Aduh… anak satu-satunya, hartaku ini mati. Tuhan, kami baru dekat, dia masih sangat lucu. Kenapa tidak saja aku...

Dunia seketika dirasa gelap. Tak berbeda seperti kebiasaannya menyuntikkan putaw ke urat kepala. Sarafnya mengejang lalu tumbang. Ramai pelayat yang datang kemudian sibuk mengangkat. Rambut gondrong ikalnya tergerai terjuntai ke bawah ketika tubuh kerempeng itu diangkat. Marni, istrinya hanya bisa menatap nanar. Matanya merah mengkilap menggenang air. Urat-urat halus memecah retina menembus kebencian terselubung di dadanya.

“Biarkan dia mati bersama anakku. Dia maunya begitu..!”

Marni berteriak. Tangannya mengejang dipegangi ibu-ibu tetangga yang melayat. Dia tetap teriak. Keras makin mengencang. Tidak dia dengar nasehat tetangga kalau kematian anaknya sebuah takdir. Tidak dihiraukan semua ocehan yang masuk ke telinga. Gendang didalamnya menolak. Yang dia tahu kematian anak lelakinya itu semata bukan takdir, bukan pula cobaan. Itu semua karena Bujang.

“Dia sudah tahu anaknya sakit. Yang ia beli bukan obat anaknya. Dasar setan, yang dibelinya malah obat setan. Dasar setan kau Bujang…!”

Marni berteriak bak melolong. Tubuhnya kini menggelepar di lantai. Kerabatnya menangis. Dia macam kerasukan. Berkali-kali kata sabar serta saran beristighfar terucap untuknya. Marni hanya diam. Matanya memutih menatap atap rumah tanpa penghalang.

***

Di malam kematian anaknya. Rumah Bujang sepi. Hanya satu dua tetangga nampak memindahkan bangku plastik dari halaman ditumpuk di teras. Angin bertiup sepoi menurun-naikkan terpal plastik warna biru. Tali nilonnya berketepuk mengencang mengikut arah terpal.

Sore tadi, ruangan rumah sempit di rumah itu ramai orang. Banyak warga yang datang melayat sekaligus membantu mengusung keranda. Anak Bujang dikebumikan di pemakaman umum. Kendati hujan, pengantar tetap setia saja. Marni berdiri di tepian kubur memegangi paying. Kakinya lemah menopang tubuh. Sesekali dia mendekap pundak kakaknya yang berdiri di sebelah. “Anakku…!” katanya menangis.

Lalu dimana Bujang? Dia tidak nampak di antara para warga yang berdiri mengelilingi lubang. Dia pula tidak berada di antara orang-orang berkopiah mengebaskan cangkul memasukkan tanah becek dalam kubur.

“Bujang tidak ikut. Dia da di rumah.” Bisik salah seorang di deretan belakang pengantar jenazah.

Apa yang terjadi sore itu masih diingat Marni. Dia duduk di dalam rumah. Kaki kirinya tersimpuh ditindih kaki sebelah ke arah belakang. Sapu tangan berkali-kali ia seka ke pipi terkadang mengais hidung. Ia masih menangis. Sejak anaknya mati, air itu tidak kering. Terus mengucur keluar dari mata. Di sampingnya, seorang wanita mulai renta tak banyak bicara. Tangannya tak henti mengusap bahu Marni yang mengejang karena dia membungkukkan badan. Emaknya itu turut larut dalam kesedihan.

Setengah jam lalu rumah mereka ramai didatangi tetangga. Surah Yasin dilanjutkan wirid berkumandang. Doa bagi anak dipanjatkan. Semoga yang ditinggalkan diberikan kesabaran tak lupa pula dipintakan. Menjelang Isya, para tetangga meninggalkan pergi satu per satu. “Yang sabar.” Itu kata mereka sebelum ke arah pintu keluar.

Di kamar, Bujang hanya sendiri. Orang-orang lebih berperhatian lebih kepada Marni. Tapi dia tidak peduli. Entah sudah berapa lama dia terduduk di tepian dipan kayu jati yang menjadi saksi malam pengantin. Pandangannya lurus. Tak peduli nyamuk merongrong betis. Tak dihirau pakaiannya bau apek bekas keringat. Bujang larut dalam fantasi. Dia tertawa bergelak. Tubunya seketika dirasa ringan. Sehat benar dirasanya ia saat itu. Dua tombak di hadapan, sekelebat dia melihat anaknya muncul kemudian tersenyum. “O.. kamu tidak mati nak. Kamu hidup lagi.” Bujang balas memberikan senyum. Tangan anak lelakinya yang lembut, lekas dia pegang lalu diayun. Mereka berdua menari diring tetabuhan musik melayu.

“Ayo kita bermain nak. Nanti ibumu menyusul.” Bujang lalu mencipta tarian melingkar. Mulutnya meracau mengucap entah nyanyian apa. Kakinya sedikit demi sedikit diarahkan ke pintu kamar. Bahunya kemudian mendorong pintu berdaun dua. Seketika terang. Tubuh menari mereka membentuk siluet terkena pancaran. Bujang kian kencang membentuk putaran. Kakinya kuat menghentak menapak rumput hijau. Burung berkicau menyambut riang. Embun menetes dari dahan lalu jatuh di genangan kolam. Alam raya kala itu begitu bersih. Langit cerah membiru diselang awan putih. Udara begitu lancar menembus hidung lalu menyeka paru-paru. Mereka berguling di hampar rumput luas. Tubuh Bujang merebah, mengangkat tubuh kecil sang anak. Wajah mereka berhadapan. Dengan senyuman, Pipi halus anaknya kemudian dikecup lembut. Begitu tenang, riang hati Bujang. Tak tahu ia kapan senja kan datang menyuruh mereka pulang.

***

Bulan kian merambat ke atas menggeser waktu malam. Cahayanya menembus dahan membuat bayang pepohonan membias ke atap rumah. Tak ada suara tapak kaki di sepanjang jalur jalan. Jangkrik kian riang bersenandung malam. Rumah Bujang begitu sunyi. Suara tangis pilu dari bibir Marni masih terdengar menyayat dari dalam.

Malam lengang membosankan itu lalu pecah dengan suara wanita serak parau.

“Marni, coba engkau tengok Si Bujang. Dia tertawa-tawa sendiri. Lekaslah.”

Marni Cuma diam mendengar perkataan emaknya. Posisinya tetap semula. Ia hanya menoleh sekjap lalu menangis lagi.

“Biarkan saja mak. Dia sering seperti itu.”

“Eh.. cobalah kau tengok sebentar. Tertawanya aneh. Lekaslah, cepat.”

Marni mengikut saja ketika jemari keriput emaknya mencengkram lengan mengajaknya ke arah kamar. Malas sebetulnya ia. Tapi apa daya, yang memerintah adalah pemilik surga ditelapak kaki. Marni dipaksa beranjak setengah diseret. Di depan pintu, cepat tangan emaknya menyingkap gorden.

“Itu, coba kau lihat.”

Mata Marni dibelalakan masuk ke kamar. Di keremangan, duami dilihat menari. “Ada apa gerangan ini?” Dia kemudian melangkah masuk.

***

Bujang masih asik mahsyuk bergelut dengan anaknya. Bibirnya nakal menjorok pipi bahkan ketiak putra satu-satunya itu. Ia begitu sebahagia anaknya. Tapi, tiba-tiba Bujang menyaksikan perubahan suasana. Rumput yang menghijau berubah coklat. Pepohonan, sura gemercik air, lenyap. Langit yang biru seketika gelap. Anaknya segera bangkit kemudian pergi dan hilang di balik gelap itu.

Bujang langsung bangkit menyibak rambut panjangnya. Bulu menutupi bibir diseka.

Ada apa ini. Kalian merusak kebahagiaanku,” sergahnya kepada istri dan ibu mertuanya.

“Apa kau tidak sadar dengan ucapanmu. Anak kita mati, lalu kau bilang bahagia. Dasar setan!” Marni membalas. Dia benar-benar marah dengan perkataan Bujang.

“Iya, kau perusak. Siapa bilang anak kita mati. Tidakkah kau lihat aku tadi sedang bermain dengan anak kita. Karena kalianlah dia jadi pergi.”

“Memang kamu sudah gila.”

“Ahk, sudahlah. Keluar saja kalian. Aku mau main dengan anakku lagi.”

Dua tubuh wanita di hadapannya didorong keluar. Dengan cepat dan kasarnya Bujang meraih pintu lalu menguncinya. Kembali dia bersenandung menari. Sementara Marni, wanita itu kembali menangis. Di balik pintu ia mengusap batinnya yang nyeri.

***

Matahari masih seperempatan mata ketika terdengar suara gaduh dari dalam rumah. Orang-orang ramai. Dari yang besar sampai yang kecil beradu kepala di jendela. Wajah mereka dinampak jelas penasaran ingin menyaksikan suara siapa yang mengerang-erang dari dalam.

Di dalam rumah tak kalah pula sesaknya. Rata-rata perangkat warga ada. Pak RT, Pak RW berada di dalam. Begitu pula orang-orang surau. Mereka yang datang belakangan menyaksikan tubuh Bujang dipegang empat sampai lima orang. Sementara didepannya, nampak pria berpenampilan kumal berbaju serba hitam duduk membakar kemenyan.

“Dari tadi malam dia begini.” Ujar Marni menjawab pertanyaan si dukun.

Si dukun itu manggut tetap komat-kamit. Diambilnya air putih segelas kemudian dimasukkan ke mulut. Air itu dikumur-kumur. Ia berdiri.

“Puih. Pergi kau dari sini. Pergilah ke alammu. Kau datang sendiri, maka pergilah sendiri,”

Tiga kali dukun itu menyemprotkan air dari mulutnya. Tangannya cekatan mengusap wajah Bujang yang basah oleh air jampi-jampinya. Bujang tetap saja demikian. Dia tertawa sejadi-jadinya. Tenaganya bahkan makin terhimpun setelah itu. Dua pria yang memegang lengannya di ayun terpental. Dukun mundur ke belakang.

“Saya menyerah. Roh yang merasuki Bujang sangat kuat. Umurnya sudah tua.”

Dukun itu lalu tak berani lagi menatap mata Bujang yang memelototinya. Dia pamit pergi. Sementara orang-orang surau yang diundang datang hanya dapat mengusap dada.

“Bagaimana ini Pak RT. Apalagi yang harus kita perbuat.”

Marni panik. Apalagi sudah tak ada lagi warga yang sanggup dan mau menenangkan Bujang yang masih saja berjingkrak menari tarian zapin.

“Kalian gila menganggap aku gila. Anakku masih hidup. Ini, lihatlah. Dia senang bermain denganku.”

Bujang kembali menari. Tidak dihiraukannya Pak RT berbisik-bisik ke telinga isterinya. Tak lama kemudian Pak RT keluar. Sekejap lalu enam pemuda bertubuh besar masuk. Tangan kekar mereka melipat kaki dan tangan Bujang hingga tak mampu lagi bergerak. Yang dipelasah pun lemas kemudian dibopong ke dalam mobil.

***

“Ke mana aku ini kalian bawa. Di sini tidak nyaman. Aku mau bermain dengan anakku. Bawa kembali aku pulang.”

Bujang berteriak demikian berulang-ulang. Di tempat itu tidak adalagi Marni, mertua atau pun tetangga. Di tempat itu terdengar sunyi. Di hadapannya kini ada beberapa muda-mudi mengenakan seragam serba putih. Yang wanita mengenakan tutup kepala. Warnanya juga putih. Salah satu diantara mereka memegang jarum suntik, menusukkannya ke urat lengan Bujang.

“Bapak tinggal di sini dulu ya. Di sini bapak bisa istirahat.”

Muda-mudi itu kemudian pergi. Bujang kini sendiri. Urat-uratnya dirasa mengendur. Tubuhya lemas. Kedua kaki tangannya terbujur diikat tali serupa kain. Hidup Bujang dirasanya bahagia. Apalagi kala itu anak lelakinya muncul dihadapan dan kembali mengajaknya bermain.

Di mendung Tanjungpinang suatu sore Desember 2008

Minggu, 16 November 2008

Sampah dan Rejeki

Pagi-pagi Endang menggerutu. Plastik isi sampah di samping pintu belakang buyar. Pampers pembungkus kotoran anak terbuka. Sisa sayur, lauk, nasi basi, semuanya jijik berserak. Lantai jadi berminyak, air sari sampah mengental membuat lendir. Bau menyengat masuk hidung.

“Puih, sial! Anjing kurang ajar.” Suara Endang menggerutu. Padahal dia belum tau apakah itu sudah pasti ulah anjing. Bisa saja itu kenakalan kucing. Melihat itu Endang jadi sakit hati. Ia berfikir, semestinya sarannya dulu diikuti suami. Rumah mereka sudah lama diminta dibikin pagar keliling. Selain aman dari maling, aman juga dari serangan fajar binatang bernama anjing dan kucing.

Ide itu sudah diutarakan jauh sebelum mereka menempati rumah yang kontan dibeli. Kejadian macam serupa yang selalu diwanti-wanti. Terbukti, tak lama menghuni, rumah mereka dimasuki maling. Endang takut disantroni lagi. Cepat-cepat semua jendela dan pintu dipasangi terali. Setelah itu, semua oke. Kendala maling dianggap teratasi.

Lewat masalah satu ini, timbul masalah lain lagi. Bunga-bunga kesayanganya. Pada suatu sore, tanah hitam dari bunga-bunga di teras rumah berserak. Mawar dan aneka jenis Anthurium, tegaknya jadi miring. Tanah hitam jadi tempat ayam bermain. Yang bikin keki, ternyata ada tahi kucing. Cuih....

Ending jadi kesal pada sang suami. Uang penghasilan kerja berdua, bukannya disalurkan ke anggaran membangun pagar keliling. Fokusnya malah pada interior. Lantai dikeramik, bagian dalam pokoknya semua dibikin kinclong. Perabot tak juga lupa dilengkapi. Satu alasan yang bisa Endang maklumi. “Kan sehat. Tak ada debu. Enaklah kita menghuni.” Kata suami. Cukup masuk akal untuk diikuti.

Gerutu Endang seketika terhenti. Suaminya didengar gebyar-gebyur mandi. Tak lama lagi, berarti suaminya akan pergi. Lekas ditingalkan saja sampah-sampah tadi. Ada yang lebih penting. Sarapan dan pakaian mesti segera disiapi.

Pada dasarnya Endang tidak takut sama dia punya suami. Pria yang menikahinya dua tahun lalu itu, santun serta baik hati. Tidak seperti dirinya yang punya kebiasaan ngomel setiap hari. Suaminya bertivikal penyabar sekaligus pengertian. Hal itulah yang membuat pasangan ini serasi.

Pernah suatu hari Endang marah besar. Ia kesal karena bunganya rusak lagi. Pelakunya, ya ayam lagi. Kemarahannya ditujukan kepada sang suami. “Ini gara-gara abang. Coba cepat rumah kita dibikin pagar. Mana mungkin ayam-ayam tetangga sialan itu masuk rumah kita. Sekarang lihatlah bunga kesayangan saya.” Tapi suaminya diam saja, cuek. Dan seperti biasa, Endang akhirnya berhenti sendiri.

Sama halnya yang terjadi pagi itu, Endang tak henti-hentinya menggerutu. Suami tetap saja pada perangainya, diam. Endang jadi segan juga. Dia tahu batasan. Sebesar apa pun marahnya, ya cuma itu, ngedumel, tidak lebih. Kendati terbilang ceriwis, Endang dikenal baik. Jiwa sosialnya tinggi. Yang namanya membantu tetangga lagi ditimpa musibah, itu dianggap hal biasa, bahkan kewajiban. Tetangga terkadang dibuat segan.

Kendati ngomel, pekerjaanya menyiapkan sarapan tetap saja jalan. Pakaian sudah disetrika rapih, sudah diletakkan di atas tempat tidur, tinggal dipakai. Pagi itu, Endang lebih memilih sarapan instant. Butuh waktu cepat untuk menyiapkan sarapan agar dia bisa kembali fokus kepada sampah yang tadi berserak. “Sarapan sendiri saja bang. Saya mau beres-beres rumah.” Katanya. Suaminya senyum jawab iya. “Tapi jangan lama-lama lho, abang setengah jam lagi berangkat. “Iya…!”

Endang bergegas. Karuan saja perkataan itu jadi beban fikiran. Tidak lama berarti segera. Ia tak ingin sampah-sampah ditinggal pergi oleh suami. Dia ingin pagi itu juga rumahnya kembali rapih. “Ah, masih banyak sampah di wadah cucian.” Sampah ini tak mau ditinggalkan. Berarti butuh pekerjaan tambahan. “Cuci semua piring dan prabot dapur dulu, kumpulkan sisa makanannya, beres. Suami baru pergi.”

Endang berusaha cepat-cepat mencuci. Piring, sendok, panci, sampai pantat kuali disikat licin. Gratak grutuk semuanya dikerjakan lekas. Ups, samar-samar hape suaminya didengar berbunyi. Padahal pekerjaanya belum lagi siap. Tidak jelas didengar apa pembicaraan sang suami. “Iya pak. Segera!” itu yang hanya menyusup ke telinga. “Wah gawat. Harus lebih cepat.” Tanganya makin ligat berkelebat. Tak peduli lagi kuku patah. Tak peduli gelang emasnya beradu gesek dengan sendok dan sebagainya. “Pokoknya segera. Nanti sampahnya ditinggal.”

Perjuangan Endang mencapai finish tepat ketika suaminya bilang “cepat.” Pekerjaannya tuntas tas tas. Sampah-sampah bekas cucian, dimasukkan dalam mangkuk tirisan. “Sebentar bang, tunggu sampahnya dulu.” Setengah teriak. Disekanya semua sampah dekat pintu belakang yang tadi berserak. Dimasukkannya ke dalam kantong plastik, disusul sampah sisa cuian. “Sudah, sekarang abang boleh berangkat.” Sampah-sampah tadi digantung ke sepada motor, sang suami lantas pergi. Tak lupa sebelumnya cipika cipiki. Endang senyum menyeka keringat basi.

*****

Tiga blok dari kediaman Endang. Edi si penghuni rumah melamun di teras menatap sampah-sampah berserak. Sampah itu barang bekas. Dia sengaja mengumpulkannya sebelum diantar ke agen menerima barang rongsokan apa saja. Plastik, besi bekas, kertas karton, buku, semua telah dipisah. Tidak terpikir bagi pemulung ini untuk memagar rumah. Begitu saja sudahlah. Yang terpenting anak bisa makan, sekolah.

“Aku rasa ini tidak cukup.” Edi menghela nafas cukup panjang. Pagi itu dia kurang gairah. Tidak seperti biasanya, rajin dan cekatan. Biasanya subuh-subuh dia keluar rumah. Menuju bak penampungan sampah sisa rumah tangga perumahan sekitar. Sebelum jam tujuh biasanya dia pulang. Si sulung anaknya diantar ke sekolah.

Belakangan Edi punya masalah keuangan. Istrinya baru sembuh setelah seminggu dirawat di rumah sakit. Lewat masalah itu, ada masalah baru lagi. Tiga bulan iuran sekolah Sulung belum di bayar. “Guru tagih-tagih terus pak.” Akh, Edi makin pusing. Pandangannya dilepas dari sampah dilempar ke langit. Omongan tagihan sekolah sudah biasa dihadapinya. Tapi yang terakhir ini beda. Runyem. Mereka diberi kesempatan satu minggu untuk melunasi. Jika tidak, Si Sulung dianggap pengurus sekolah tidak layak belajar lagi. Hari itu pas waktu untuk melunaasinya.

Sebenarnya Edi kepingin datang menjumpai wanita tetangga yang disampanya dengan panggilan Bu Endang. “Tapi tidaklah. Malu.” Soalnya utangnya sama Bu Endang masih ada. Biaya pulang istrinya dari rumah sakit saja dari Bu Endang. “Tidak mungkin.”

Edi makin stres. “Kacau.” Dia lalu menghampiri istrinya. “Mak, Sulung hari ini tidak usah sekolah saja.” Istrinya Cuma diam. Sulung disuruh melepas kembali seragam sekolah. Karung dan gancu dimasukkan ke keranjang rotan di belakang motor. Edi pergi.

Di bak sampah dia melamun lagi. Tangannya bekerja, sementara mata dan fikirannya tidak. Hanya gancu yang diayunkan ke onggokan sampah keciprak-keciprok. Padahal suasana di bak sampah itu ramai. Banyak pemulung yang juga mengais rezeki di sana. Sambil bekerja biasanya Edi bercengkrama. “Ah, dari mana aku dapatkan duit.” Lamunnya.

Bagi Edi, keadaan sedemikian ini bukan hal up normal. Tak punya duit itu merupakan hal biasa. Awalnya sebelum nikah saja dia sudah seperti itu. Istrinya selama ini maklum. “Sudah menjadi konsekuensi dinikahi pemulung. Mau bagaimana lagi,” itu kata sang istri. Tapi setelah punya anak, bagi Edi tentu tak sama lagi. Baginya cukup dia yang pemulung. Anaknya tidak. “Jangan sampai bapakmu pemulung, kamu juga jadi pemulung.” Demikian dia selalu memberi nasehat supaya anaknya rajin sekolah.

Takut betul Edi kalau Si Sulung menyamainya. Tidak muluk-muluk sampai kuliah, lulus SMA pun dianggapnya jadilah. Sama, itu yang difikirkanya di bak sampah. Entah berapa lama. Tak dirasa gancu sudah berayun beratus-ratus kali. Tidak disadarinya isi pampers, sisa makanan, dan aneka sampah lainnya memercik ke wajah. Plastik yang digancunya sudah luluh lantak pecah.

“Ups!” Mata Edi terperangah. Ada benda mengkilat panjang diantara sampah-sampah buyar. Diambilnya lekas. Dia macam tak sadar terkesima. Cepat-cepat benda yang rupanya gelang emas itu diselipkan ke saku celana. Matanya lepas ke kanan kiri. Aman, tak ada yang memandang. Raut Edi begitu bahagia. Tak tahu gelang itu punya siapa. Yang penting baginya itu anugerah terindah dari tuhan yang hari itu dia terima. “Tak tahulah, yang penting anakku bisa kembali sekolah.”

****

Sore hari suami Endang pulang ke rumah. Senyumnya sumringah menghantar bungkusan plastik hitam berisi jajanan gorengan. Endang menangkapnya malas. Bibirnya mengatup ditark ke samping atas. Si suami lalu tanya kenapa, "What hapen-ayak naon?" Bibir Endang tetap demikian. Tubuhnya saja yang menggeliat manja. "Anu bang, gelang kesayanganku hilang. Tak tahu kemana." Sumi jawab , apakah sudah dicari. "Sudah. Dari depan sampai belakang, tak ada juga. Malah carinya dari pagi tadi." Suaminya hanya nyeplos gitu saja. "Sudahlah bukan hak kamu lagi. Nanti, kalau ada rezeki, kita beli lagi." Endang jadi riang. Tangannya memeluk tubuh suami manja.


Tanjungpinang, November 2008

Kemahalan PNS

Oleh: Andri Mediansyah

Suara jangkrik bersahut panjang. Angin bertiup dingin di celah dahan. Sejuk. Hawanya menembus jaket tebal Pak Safar. Suara sepeda motor bututnya meraung menembus embun yang mulai turun.

“Ah, sampai juga.” ia berdesah panjang.

Rumah yang ditujunya sepi. Sudah cukup malam, jam sembilan. Lekas Pak Safar memarkir motor. Di dalam rumah, ada yang mengintip dari balik gorden. Lampu neon lalu menyala. Ia menuju teras. Peci hitamnya dibetulkan. Map biru diapit erat di ketiak.

“Assalamualaikum…!”

“Waalaikum salam.” sahut dari dalam.

“Eh, Pak Safar. Masuk Pak. Silahkan. Ada keperluan apa ini?” sambut ahli rumah, ramah.


Pak Safar lebih memilih duduk di teras. Katanya tak mau bikin repot. Di hadapannya, duduk Pak Haji Oong. Dia orang terpandang di kampung. Kaya, pemilik banyak tanah dan usaha.

“Begini pak. Sebelumnya saya minta maaf sudah mengganggu istirahat.” memberi pengantar.

“Saya kesini, mau menawarkan tanah milik keluarga kami ke Bapak. Mudah-mudahan Bapak mau dan berminat membeli. Harga bisa kita kompromikan Pak. Tanahnya strategis. Rata di dekat jalan desa. Dulu sudah ada yang menawar. Tapi tidak saya jual. Sayang. Soalnya itu salah satu peninggalan orang tua kami. Luasnya empat hektar. Bagus Pak” kemudian menyerahkan map biru yang sejak Pak Safar duduk diletak di meja.

“Bu.. tolong ambilkan kaca mata bapak.”

Tak lama istrinya datang. Dia sekalian menghidangkan dua gelas teh panas ditambah secuil kue basah. “Silahkan pak, mumpung panas,” ramah kemudian masuk ke dalam.

Lekas teh itu dihirup. Dada yang tadi dingin, kini hangat. Matanya mendelik kea rah Pak Haji Oong yang jeli menyimak kertas berisi denah tanah.

“Maaf, tanahnya belum sertifikat ya Pak? Masih alas hak.”

“Tapi saya tertarik. Rencananya mau dilepas harga berapa?” memotong Pak Safar yang tadi hendak menyela.

“Begini Pak. Seperti saya katakan tadi, saya sebetulnya sayang melepas tanah ini. Karena ada kepentingan mendadak, tanah ini saya jual. Saya tidak berharap lebih. Sesuai kebutuhan saja.” kemudian meletakkan gelas.

“Bilang saja pak. Tidak usah segan. Kan harga nantinya berdasar kesepakatan.”

“Eee.. saya butuh delapan puluh juta pak. Saya rasa harga segitu sudah pantas.”

“Delapan puluh juta ya…!”

“Begini Pak Safar. Saya bukannya memanfaatkan keadaan Bapak. Jadi pertimbangan saya, tanah ini belum ada sertifikat hak milik.”

“Bagaimana kalau enam puluh juta?”

“Bapak tidak mesti menjawab sekarang. Kalau Bapak setuju, besok pagi Bapak ke sini, jual-beli kita proses. Tapi kalau Bapak berfikir untuk mencari orang lain, silahkan. Saya anggap tanah itu bukan jodoh saya.”

Pak Safar menunduk. Diam. Pak Haji Oong kini tidak lagi membahas masalah niaga tanah. Topik beralih keluarga. Menanyakan bagaimana kabar anak-anak, dan kegiatan Pak Safar semenjak pensiun jadi pegawai kelurahan. Obrolan keduanya garing. Pak Safar tidak konsen lantaran memikirkan perbandingan antara delapan puluh juta dan enam puluh juta. Tak lama, ia pamit pulang.

Di rumah istri menyambut. Usai tangannya disujud, Pak safar bergegas menuju kamar. Istrinya menyusul. Diperhatikan Harun, Yahya, dan Salim, anaknya, tertidur lelap di depan teve 14 inchi di ruang keluarga. Ruangan itu salah satu bagian perjalan rumah tangga pak safar. Dulu, saat membangun rumah, ruang itulah yang dia utamakan. Luasnya dibikin lebar dari ruangan lain. Dekorasi diset lebih nyaman agar waktu yang dihabiskan disana lebih terasa. Terngiang ditelinya suara canda mereka anak-beranak. Harmonis. Suara itu lalu hilang, Pak Safar masuk kamar.

“Mana Eka?” kata Pak Safar. Ia meletakkan peci di paku gantungan kemudian melepas pakaian.

“Eka ada di kamar. Belum tidur. Dia masih baca-baca buku. Sarah, Siti di kamar juga. Mungkin sudah tidur.”

“Ini pak, minum dulu.”


Gelas diraih. Airnya ditenggak habis. Pak Safar lalu menyingkap kelambu kemudian berbaring. Lengan kanan diletakkan di dahi. Matanya menerawang.


“Bagaimana Pak. Haji Oong minat beli tanah kita?”

“Iya bu. Tapi beliau mintanya enam puluh juta. Tanah kita belum sertifikat. Bapak katanya disuruh mikir dulu. Kalau kita setuju, besok pagi sanggup dibayar”

“Jadi bagaimana Pak. Kita butuh delapan puluh juta?”

“Tenanglah bu. Kita bicarakan besok pagi saja. Bapak mengantuk”


Suasana lengang. Suara dengkur disambut jangkrik. Sesekali, terdengar pula suara tutup panci dimainkan tikus. Selebihnya senyap. Di bilik, Eka Putra, sulung Pak Safar masih betah duduk di meja belajar. Temannya buku dan lampu neon 5 watt. Kertas halaman tak bosan dibalik ke belakang. Padahal, buku itu sudah lebih tiga kali dibaca. Di meja banyak juga buku-buku. Pengetahuan umum, tes IQ, psiko tes, tertumpuk contoh-contoh soal tes CPNS.


Ia sarjana pertanian dengan predikat cumlaude, sangat memuaskan. Skripsi “Potensi Pengembangan Usaha Pengolahan Ketela Rambat” dihargai nilan “A” oleh dosen penguji. Kendati demikian pekerjaan tak kunjung didapat. Tiga tahun.

Eka cukup merasa tertekan. Terlebih kepada orang tua. Ia diharapkan menjadi tulang punggung ke depan. Adik-adiknya semua sekolah. Sarah masih kuliah. Saudara yang lain pun demikian. Dari SD hingga SMA. Butuh biaya banyak. Ada satu faham yang pernah dianut bapaknya. Pak Safar beranggapan gampang-gampang saja. Yang namanya sarjana, pintar, pasti mudah dapat kerja. Diingat Eka ketika di mobil sewaan ketika pulang wisuda dulu. Si supir memutar lagu iwan fals, Sarjana Muda. Ia sangat terbeban. Dia juga tidak bisa menyalahkan prinsif sang bapak, banyak anak banyak rezeki.


Beban itu kemudian hilang. Eka terlelap di atas tumpukan buku jadi bantal.

*****

Belum siang ketika rumah Pak Safar didatangi orang. Pembahasan soal rencana jual tanah dengan sang istri ditunda. Ia lekas melayani tamu itu.

“Bagaimana yang saya tawarkan pak? Ini waktu sudah mepet. Kalau tidak cepat, saya khawatir jatah bagi anak Bapak diserobot orang. Banyak yang berminat Pak!”

Pak Safar merenung.

“Saya mengerti Pak. Secepatnya akan saya kabarkan.”

Pak Safar termangu di teras rumah. Mata sayu, kening mengkerut. Istrinya menghampiri, lalu mengusap bahu pimpinan keluarga itu.

“Pak… yang sabar ya…!”

“Sepertinya kita memang harus menjual tanah itu bu. Enam puluh juta tidak apa. Kekurangannya akan kita cari lagi.”

Lekas Pak Safar berbenah. Sepeda motor butut miliknya dinyalakan, kemudian tancap gas. Ia ke rumah Haji Oong. Pagi itu juga, tanah dilepas sesuai harga kesepakatan. Sebelum menerima uang, Pak Safar berbicara pelan. Dia minta pinjaman dua puluh juta lagi. “Dalam waktu cepat. Saya berusaha lekas mengembalikannya pak.” Pak Safar berjanji. Haji Oong sejenak terdiam, Pak Safar terus meyakinkan. Sampai akhirnya dia mengangguk. “Iya!”

****

Suatu siang sebulan kemudian….

Rumah Pak Safar begitu gaduh. Dia menepak-nepak dinding rumah, menangis. Istrinya, Eka, menangis. Anak-anaknya yang lain juga ikut-ikutan menangis. Parau kemudian hening. Tak ada yang berbicara. Cuma suara Pak Safar yang bertriak-berteriak: “Ya Tuhan, kenapa begini!” Ia menyesal. Dari pada PNS, lebih baik tanah dan Eka dijadikan modal.

Minggu, 14 September 2008

Keputusan

Oleh Andri Mediansyah

Gelap, bau alkohol, bau obat-batan. "Dimana aku?" Pertanyaan itu seketika muncul dalam pikiranku. Aku berusaha bangkit. Tapi, seketika tubuhku bergetar. Sakit di kepala ku terasa begitu nyeri. Ada perban membalut kepalaku. Hingga saat itu pun aku belum tahu apa sebenarnya yang terjadi kepadaku.

Dalam kegelapan itu, dalam remang pandanganku, muncul sosok tubuh dari balik pintu mengenakan pakaian serba putih. Dinyalakannya lampu yang mungkin sengaja diatur redup. "Jangan banyak gerak dulu," suara itu terasa lembut dan tenang.

Dia seorang wanita mengenakan seragam perawat. Aku baru sadar, aku berada di ruang perawatan rumah sakit. "Anda siang tadi diantar seseorang. Anda mengalami kecelakaan," katanya lagi.

Dalam nyeri kepalaku, aku mencoba mengingat apa yang terjadi. Siang tadi, diantar seseorang, kecelakaan? Pertanyaan-pertanyaan itu coba kujawab dengan usaha memutar memoriku pada peristiwa yang kulalui sebelumnya.

Setiap aku berfikir, setiap kali juga sedutan di kepalaku terasa menusuk. Tapi aku penasaran. Aku harus tahu dengan apa yang kualami. Lambat laun memoriku mulai beraksi. Seingatku, pagi tadi, ada pesan masuk melalui Hp-ku.

Iya, aku ingat. Pagi tadi aku menerima pesan. Lalu siapa yang mengirim pesan itu? Apa isinya? Kembali otakku kupaksa bekerja untuk mengingat. Sembari si perawat sibuk mengganti infus yang menancap di lengan kananku, otakku memberi sinyal kalau ia tak sanggup lagi bekerja. Hanya itu yang dapat kulakukan untuk mengingat apa yang sebenarnya terjadi. Aku tak sadar lagi.

Suara detak sepatu membangunkan membuat mataku spontan terbuka. Kini cahayanya tak gelap lagi. Ternyata hari telah pagi. Dari jam dinding yang terpajang di dinding ruangan, waktu itu menunjukkan jam tujuh. Kini kepalaku terasa tak berat lagi.

Aku mulai mengingat apa yang terjadi sebenarnya. Pesan yang sebelumnya ku ingat kuterima, dikirim oleh Imel. Dia teman kantorku. Kami punya hubungan yang dekat. Enam bulan berjalan kami saling mengenal. Sebetulnya ada hubungan khusus antara kami.

Aku terakhir berjumpa dengannya dua hari sebelum aku terbaring di rumah sakit. Kepadaku ia menyampaikan isi hatinya. Menyampaikan perasaan bahwa dia mencintaiku. Aku hanya tersenyum. Aku tak mampu menjawabnya. Kami pun bubar tanpa ada jawaban.

Di rumah, lama aku menimbang. Aku tak bisa membalas cintanya. Aku tak mungkin menghianati cinta yang selama ini telah dipersembahkan Manda kepadaku.

Kuingin ucapkan "a"
Tapi entahlah, sulit untuk mengucap itu
Padahal aku tahu yang kurasakan adalah "a"

Mungkin ada yang sangat butuh dengan "a" itu hingga menjadi lengkap suatu kalimat baginya

Padahal, sangat sulit apa yang telah tertulis dihati menjadi pudar
Apa mungkin "a" itu kurubah menjadi "b"
Apakah juga mungkin kubuat menjadi "a-a"
Ah, entah lah

Kukirimkan rangkaian kata yang kubuat itu melalui sms kepada Imel. Aku kemudian tidur, sembari memikirkan keputusan tersebut.

**************

Pagi-pagi sekali hp ku mendengarkan nada bahwa ada pesan yang masuk. Buru-buru ku buka. Ternyata pesan itu dari Imel. "Bang, aku sekarang di bandara. Maaf aku telah lancang. Aku akan segera berangkat ke Jakarta. Selamat tinggal."

Buru-buru ku raih jaket dan kunci motor diatas meja dekat pembaringanku. Sembari menimbang pesan bahwa pesan yang tadi malam kukirimkan adalah penyebanya, aku lajukan kendaraanku dengan kencang.

Semua kendaraan yang ada didepan semua coba ku potong. Sampai akhirnya, satu tak lolos. Ban belakang sepeda motorku menyenggol sebuah sedan yang coba ku salip. Aku terpental, tak sadar. Aku gagal tuk menjumpainya karena akhirnya aku berada di rumah sakit ini.

Sabtu, 13 September 2008

Tentang Perasaan

Oleh: Andri Mediansyah

2000; aku remaja mengenal wanita yang awalnya aku tak punya perasaan cinta kepadanya. Lama kelamaan, karena keakraban, perasaan cinta itu kemudian muncul. Muncul begitu saja, tanpa niat, tanpa kesengajaan.

Tanpa dirasa juga, perasaan cinta itu semakin menjadi-jadi, tanpa diniat, tanpa disengaja. Ikrar setia pun keluar fasih dari mulut yang ku sadar adalah sebuah janji yang mesti kulakoni walau jarak memisahkan semacam ini.

aku adalah lelaki
yang hidup di atas pendirian, atas ucapan

aku adalah lelaki
yang tak mungkin tega menghianati
tak ingin menyakiti

dia yang kucinta
dia yang kubela

oh, apakah mungkin aku tetap seperti itu?
aku adalah lelaki

Syukur, hingga jarak memusuhi, aku masih tetap lelaki yang tepat janji. Perasaan dari dan untuk wanita lain, semua berhasil ku tampik. Bayang kesetiaan dan wajah ayunya selalu muncul. Dimana aku berdiri, dia menjadi bayang-bayangku. Bayang-bayang yang dapat membuat aku tegar, kokoh sebagai lelaki.

*****

2005; Dunia baru kuhadapi. Pemikiran tak lagi sepenuhnya terfokus pada janji. Ada kesibukan serta perbedaan suasana yang membagi. Pekerjaan yang membuat pergaulan serta pengalaman ku kian lupa diri. Pergaulan dan pengalaman lah yang membuat janji sebelumnya tercongkel. Aku mengenal seorang bahkan banyak wanita yang mungkin aku senang, dan mungkin juga aku disenangi.

Satu diantaranya jujur kusukai. Entah, rasa yang didasari karena apa. Sayang kah, cinta kah? Entah, yang jelas aku suka.

dan janji pun tersayat
setia mengabur
cinta tergoyang
tabir pembalut menipis
rantai pengikatnya renggang
ada angin sejuk yang merasuk dalam pori-pori
menyusup hingga ke hati
terus meniup hingga tabir dan rantai janji setia seolah hendak lari

Janji lama yang hakekatnya janji mulai terkikis karena keberadaan sang wanita baru. Perasaan cinta muncul di salah satu sisi hati. Lagi-lagi perasaan itu muncul begitu saja, tanpa diniat, tanpa disengaja.

Hampir saja janji setia baru muncul. Ups… tunggu dulu, bagaimana dengan janji setia mu di 2000 dulu? Aku belum bisa menjawab.

kuingin ucapkan "a"
tapi entahlah, sulit untuk mengucap itu
padahal aku faham yang kurasakan adalah "a"
mungkin ada yang sangat butuh dengan "a" itu, hingga menjadi lengkap suatu kalimat baginya
apa mungkin "a" itu kurubah menjadi "b"
apakah juga mungkin kubuat menjadi "a-a"
ah, entah lah, sangat sulit apa yang telah tertulis di hati menjadi pudar

Lama kutimbang tulisan berupa sms dalam layar ponsel akhirnya kukirim. Malam itu, tak tahu apa yang dibayangkannya. Ah, sudahlah. Syukur janji setia-ku terselamatkan oleh sebuah keputusan.

****

2008; Tak tahu harus mulai dari mana. Aku tak tahu kapan rasa itu muncul. Wanita yang tadinya hanya sahabat, lagi-lagi tanpa diniat tanpa disengaja, berubah menjadi sosok berbeda. Ia muncul berdiri di hati mendorong janji setia hingga terbaring.

benih cinta bersemi karena disirami
terus tumbuh hingga muncul kelopaknya
tapi bunganya lain
aneh… tapi itu fakta
apakah mungkin?
mana mungkin cempedak berbuah nangka
meski baunya sama, cempedak harus tetap berbuah cempedak

Semua berawal biasa, sahabat, tanpa lebih. Tapi belakangan sepertinya diantara cempedak itu tumbuh nangka. Sama harumnya, sama jenisnya. Buah itu tumbuh membesar diantara cempedak yang tumbuh di dasar hati.

Keakraban yang terjalin, benar-benar menjalin rasa lain. Akrab menjadi sayang, simpati berubah cinta. Begitu cepat dan singkatnya sampai-sampai aku tak sadar punya rasa sayang dan cinta kepadanya.

Sama, benar sama! Sentuhan, belaiannya sama. Dekapannya pun sama. Kecupan yang kuberikan kepadanya dan kepada janji setiaku sama. Rasa yang kucurahkan sama. Cempedak itu berubah menjadi nangka. Sangat sulit membedakan keduanya. Ketika ia jauh, bau keduanya kurindu. Rindu untuknya tak berbeda dengan rindu untuk sang janji setia.

Kerap ku berdiri di balik kaca kusam jendela kamar. Menanti ia datang, yang kuharap untuk dapat bersua. Berbagi cerita, berbagi cinta. Melepaskan kerinduan dengan pelukan, mengungkapkan cinta dengan kecupan (bahkan lebih).

Apakah itu cinta? Apakah itu iblis? Itu cinta yang dilatar belakangi sayang. Rasa sayang yang khawatir ketika dirinya jauh, rasa sayang yang membuatnya menjadi bagian hati.

engkaulah manusia yang memiliki hati
pengatur janji yang selama ini engkau tanam didalamnya
engkau bukan malaikat
yang setia pada kodratnya sebagai pelaksana tugas Tuhan

Oh, beratnya menjadi manusia yang memegang teguh setianya. Apakah kodratku sebagai manusia tak mungkin sama seperti malaikat? Aku ingin menjadi melaikat. Yang memegang teguh setia. Janji setia itu tak lama lagi segera datang. Usai lebaran, ingatkah engkau akan janji-mu untuk mempersuntingnya?

Pertanyaan itu seketika muncul di saat pelampiasan sayang dan cinta berlangsung. Photo berkerudung di album itu nampak disaat aku "bercinta" dengannya. Alamak, cinta mana yang berdiri dihadapanku? Yang membalas cium dan kecupanku. Seketika ia berdiri dihadapanku, menampar wajah dengan senyum manisnya. Senyum itu tak lama. Dia marah kemudian menangis. Menangis karena aku melanggar janji. Menangis karena aku tak lagi sebagai lelaki-nya. Lelaki yang memegang janji…

Sepeninggal ia dari kamar, lama aku termenung. Kutatap photo bayangan yang tadi menangis. Sekarang hatiku yang menangis. Pilu, sangat pilu. Tercabik karena keingkaran. Terkoyak karena penghianatan…

Aku adalah lelaki yang memegang peranan
Yang dituntut dapat melakukan penyelesaian
Batu meski kupecahkan
Bukan dengan palu, melainkan lembutnya perasaan
"Aku hanya berfikir…!"

Aku senang dia merespon ucapanku dengan baik. Yang mau membuka dekapnya untuk bingungku dalam mengambil keputusan untuk mengakhiri perasaan yang antara aku dan dia mengakui sama. Sungguh aku ingin menangis saat air matanya menetes. Bias dimatanya meluluhkan perasaan. Terbayang kenyataan bahwa aku telah menyakiti perasaannya.

Aku hanya ingin mengakhiri awal dari sesuatu yang dapat kuramal menjadi kekecewaan. Aku tak ingin kecewa itu menjadi hitam dan menggelapkan pandangan. Mengaburkan hubungan yang selama ini baik. Memupuskan harapan yang dapat membuat kian terpuruk.

setia, tolonglah aku
aku sekarat dalam dilema
isyaratkanlah kepadanya yang mengerti keadaan untuk pengertian

dan kau jaji, kembalilah
mengalirlah dalam nadiku
meresaplah ke hati yang mulai rapuh hingga menepismu
buat aku tegar dengan keputusan
keputusan pahit untuk memilihnya dan memilihmu
tolong… aku sekarat

Aku bahagia, dia mengerti keputusanku yang sebenarnya kurasa simalakama. Aku bangga dengan kebesaran hatinya. Dia yang mungkin akan menjadi guru atas pengajarannya. Tak terbayang apakah aku sanggup. Apakah aku dapat terlelap dibalik bayang-bayang keputusanku ini? Mampukah aku melenggang dihadapannya yang mengerti tak dapat berharap lebih dari sekedar mencintai.

Aku hanya takut dia lebih kecewa. Tapi bagaimana lagi, semua ini harus dibatasi. Sebelum terlanjur jauh dengan keputusan yang kukhawatirkan salah.

kepada cinta yang berbagi, jalanlah setapak kemudian lari
tapi tolong, jangan semua pergi
sisakan persahabatanmu untukku
kepada cinta berbagi, tolonglah kau mengerti

Disaat seperti ini, semua lagu tentang pilihan cinta semua mengena. Sepadan, benar-benar menyayat.

Hancur hatiku, mengenang dikau
Menjadi keping-keping setelah kau pergi
Tinggalkan kasih sayang yang pernah singgah antara kita
Masihkah ada sayang itu

Memang salahku yang tak pernah bisa
Meninggalkan dirinya tuk bersama kamu
Walau tuk trus bersama kan ada hati yang kan terluka
karena ku tahu kau tak mau

Sekali lagi maafkanlah
Karena aku cinta kau dan dia
Maafkanlah ku tak bisa tinggalkan dirinya

Mungkin tak mungkin
Ku terus bersama jalani semua cinta yang tlah dijalani
Tapi bila itu yang kau pikir yang terbaik untukmu
Bahagiaku untuk dirimu

Simpan sisa-sisa cerita cinta berdua
Walau tak tercipta cerita cinta berdua

(Aku cinta kau dan dia, Ahmad Dhani)

Maafkan aku yang tak bisa meninggalkan dirinya tuk bersama kamu…
Maafkan aku untuk tetap memegang teguh janji di tahun 2000 dulu….