Saya cukup tertarik dengan ceritanya Pak Wagub Kepri, H.M Sani soal cermin. Cerita itu dia sampaikan kepada rekan-rekan wartawan di ruang siar RRI Tanjungpinang. Menurut saya ringan, namun syarat makna.
Ceritanya cermin dari pak wagub itu begini, dulu ada putra mahkota bertanya, kenapa dia belum juga diangkat jadi raja. Padahal dia menganggap dirinya sudah layak. Baik dari segi usia, serta wawasan.
Lalu, pertanyaan itu dijawab perdana mentri. Si Putra mahkota diminta baginda raja untuk kembali belajar. Dengan sangat terpaksa, putra mahkota pun menuruti. Dia akhirnya dikirim kepada seorang cerdik pandai yang cukup termahsyur di seantero kerajaan.
Sesampainya di sana, si putera mahkota kembali bercerita tentang keinginannya untuk menjadi raja. Ya, raja. Raja bagi kerajaan yang makmur semasa kepemimpinan bapaknya. Mendengar cerita itu, si cerdik pandai mengkerutkan kening. Dia lalu beranjak, dan kemudian pergi keluar rumah. Sekejab kemudian dia kembali lagi membawa hampir ratusan orang, berikut kereta kuda. Masing-masing kereta berisi cermin. Seluruhnya ada seribu. Si Pangeran lalu bertanya.
"Untuk apa cermin sebanyak ini?" katanya.
Lalu, dengan kelembutan penuh bijak si cerdik pandai menjawab. Ini untuk pangeran. Gunakanlah untuk mencerminkan diri anda paduka. Tiap cermin dapat menunjukkan kekurangan di diri anda. Dengan mengetahui kekurangan itu, mudah-mudahan paduka dapat berintrosfeksi diri mengenali kekurangan yang dimiliki. Tak ada yang tahu kekurangan, selain anda.
Cerita pak wagub itu kemudian mengingatkan saya kepada pesta demokrasi yang kini sedang dalam tahapan. Banyak wajah-wajah terpampang di kain berukuran besar menghiasi sudut jalan. Wajah-wajah mereka penuh semangat, cerah, ramah, sopan, dan senyum sumringah. Mungkin menurut saya, "cermin=introsfeksi diri" dibutuhkan bagi mereka.
Wajah-wajah itu lalu mengingatkan saya kepada tulisan mantan pimpinan redaksi saya di
Posmetro Batam, Hasan Aspahani (semoga sukses selalu). Dalam rubriknya, "pendekar puisi" satu ini berseloroh soal wajah-wajah para calon anggota legislatif yang memanfaatkan (kalau tak khilaf) momen tahun baru buat berkampanye.
Tulisannya ringan namun menurut saya mengundang rasa. Kira-kira yang disampaikannya begini: Kalau ingin tetap diingat dan dikenal, sebaiknya penampilan anda di spanduk jangan berubah sampai masa pemilihan tiba. Kalau di gambar memakai kumis, peliharalah kumis itu.
Disarankannya pula demikian: sebaiknya, peliharalah juga tatanan rambut. Jangan sampai model rambut yang digambar berbeda dengan yang di gambar. Intinya saran tersebut biar masyarakat calon pemilih tetap ingat dengan wajah mereka.
Menurut saya apa kata mantan bos saya ini masuk akal. Di Kota Tanjungpinang saja, tidak sedikit wajah-wajah yang mesti diingat warga. Ada ratusan jumlahnya. Wajah-wajah calon anggota dewan terhormat itu kini kian marak bertebaran. Saya yakin, menjelang lebaran ini pun spanduk-spanduk akan berubah dengan ucapan yang lain. Kembali pada pesan mantan pak bos tadi, biar spanduk diganti, penampilan asli dengan gambar di spanduk tidak berbeda.
Yang saya jumpai, tidak sedikit orang-orang dari partai politik, tokoh masyarakat, sampai ustadz yang biasa mengajar mengaji, begitu kebelet menjadi anggota dewan. Tak jarang dari mereka mulai jaga-jaga prilaku. Menyapa setiap orang dengan ramah, bersikap selembut
mungkin. Bahkan ada pula diantaranya yang tidak segan-segan menyelipkan sedikit kata jangan lupa nomor urut sekian dari partai anu disetiap akhir pembicaraan.
Saya terus terang khawatir dengan pemberitaan di mas media yang pada masa akhir pilkada atau pemilu memberitakan soal meningkatnya kebutuhan akan psikolog. Seperti yang terjadi di Ponorogo belum lama ini. Seorang mantan kandidat bupati Ponorogo tahun 2005 ini nekat mau bunuh diri. Bukan hanya lantaran kalah dalam kancah peperangan pilkada. Dia stres karena hutangnya menumpuk dan tidak mampu mengembalikannya. Hutangnya tidak sedikit, Rp2,4 M.
Itulah kekurangan pak bupati. Dia tidak mendengar cerita cermin dari pak wagub seperti saya.
Selasa, 23 September 2008
Senin, 22 September 2008
Hujan Pukulan Ke Tubuh Wartawan
Tanpa perlu menunggu waktu lama bagi Hengky untuk segera beranjak dari tempat duduk. Sabtu (20/9) sekitar pukul 22.00 WIB, stringer RCTI untuk Bintan ini langsung menuju sepeda motor. Bersama beberapa rekan seprofesinya, ia lajukan sepeda motornya dengan kecepatan tinggi.
Yang ada di fikirannya bagaimana mendapat momen bagus dari keributannya dari informasi yang diterima. Mengambil gambar, lalu menghasilkan berita aktual yang menarik disimak pemirsa stasiun televisi swasta tempat ia menjadi stringer. Beberapa rekan yang bersamanya di Batu 9 tadi, ia tinggal cukup jauh di belakang.
Dalam waktu sekejap motor besar yang dia kendarai, tiba yang dimaksud. Informasi yang diterima akurat. Di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Batu 3, Jalan MT Haryono, suasana ketika itu nampak ramai. Mata-mata orang disana tertuju pada sekelompok pria berambut cepak merengsek mendesak seorang pria berpakaian seragam sekuriti.
"Waktu samapai di sana, pas sekuriti sedang dipukuli," kata Hengky.
Otak wartawannya bekerja. Tanpa menunggu lama, ia segera mengeluarkan senjatanya, berupa handycamp dari dalam tas, dan langsung mengarahkannya ke pengeroyokan yang sedang terjadi itu. Tiap adegan dia rekam.
Tapi, Hengky bekerja tidak sampai lama. Beberapa orang kemudian mendekatinya. Sebelum menjadi sasaran amukan, Hengky sempat menjelaskan kalau dirinya adalah wartawan. Tapi, orang-orang emosi yang tida diingat jumlahnya oleh Hengky kemudian menyarangnya.
Pukulan demi pukulan dia terima. Demikian juga dengan tendangan. Menurut Hengky, ketika itu dia benar-benar menjadi bulan-bulanan. Dia mengaku juga diinjak-injak.
Hengky benar-benar tidak dapat berbuat banyak. Dia bahkan tidak sadar kalau handycamp miliknya hilang. Dia baru menyadarinya setelah pengeroyoknya yang hanya diingatnya berjumlah banyak itu pergi meninggalkannya.
Yang dirasanya saat itu adalah rasa sakit disekujur tubuh. Mata kanannya memerah, dahi dan bawah mata kirinya robek. Sementara mulutunya nyonyor akibat dihujani pukulan.
"Aku tak tahu apa kawan-kawan yang berada dibelakang, melihat (saya dikeroyok). Soalnya mereka cukup jauh tinggal di belakang," ujar Hengky.
Putra, stringer Indosiar yang bersama Hengky berangkat, mengaku tidak sempat menjumpai Hengky dikeroyok. Sesampainya dia di SPBU Batu tiga, suasana memang ramai. Tapi, orang-orang yang mengeroyok Hengky telah pergi.
"Aku tertinggal jauh. Motorku tidak bisa mengejar. Aku tertinggal mulai dari Batu Delapan," kata Putra.
Usai mengalami kejadian tersebut, Hengky kemudian melaporkan kejadian yang dia alami ke Mapolsekta Bukit Bestari. Tak lama di sana, beberapa petugas intel, serta Polisi Militer dari Pangkalan Utama Angkatan Laut (Lantamal) Wilayah IV datang. Hengky, Ismail (operator SPBU), dan Udin Syamsudin (petugas sekuriti), dibawa petugas tersebut ke Markas POMAL di Jalan Merdeka, untuk dimintai keterangannya.
*Kejadian yang dialami Hengky bagi saya perlu dijadikan pembelajaran. Tidak menutup kemungkinan bagi saya, dan rekan-rekan jurnalis yang lain akan mengalami hal yang sama. Dia bisa jadi wartawan yang punya harapan mendapatkan pemberitaan yang bagus, gambar yang baik. Kejadian ini bisa menjadi guru untuk kita lebih berhati-hati damal bertugas. Dimana keselamatan diri adalah sesuatu yang tidak bisa dinafikan sesuatu hal yang penting. Dengan selamat, kita bisa menentukan langkah selanjutnya. Membuat laporan, tanpa mengalami cedera.
Yang ada di fikirannya bagaimana mendapat momen bagus dari keributannya dari informasi yang diterima. Mengambil gambar, lalu menghasilkan berita aktual yang menarik disimak pemirsa stasiun televisi swasta tempat ia menjadi stringer. Beberapa rekan yang bersamanya di Batu 9 tadi, ia tinggal cukup jauh di belakang.
Dalam waktu sekejap motor besar yang dia kendarai, tiba yang dimaksud. Informasi yang diterima akurat. Di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Batu 3, Jalan MT Haryono, suasana ketika itu nampak ramai. Mata-mata orang disana tertuju pada sekelompok pria berambut cepak merengsek mendesak seorang pria berpakaian seragam sekuriti.
"Waktu samapai di sana, pas sekuriti sedang dipukuli," kata Hengky.
Otak wartawannya bekerja. Tanpa menunggu lama, ia segera mengeluarkan senjatanya, berupa handycamp dari dalam tas, dan langsung mengarahkannya ke pengeroyokan yang sedang terjadi itu. Tiap adegan dia rekam.
Tapi, Hengky bekerja tidak sampai lama. Beberapa orang kemudian mendekatinya. Sebelum menjadi sasaran amukan, Hengky sempat menjelaskan kalau dirinya adalah wartawan. Tapi, orang-orang emosi yang tida diingat jumlahnya oleh Hengky kemudian menyarangnya.
Pukulan demi pukulan dia terima. Demikian juga dengan tendangan. Menurut Hengky, ketika itu dia benar-benar menjadi bulan-bulanan. Dia mengaku juga diinjak-injak.
Hengky benar-benar tidak dapat berbuat banyak. Dia bahkan tidak sadar kalau handycamp miliknya hilang. Dia baru menyadarinya setelah pengeroyoknya yang hanya diingatnya berjumlah banyak itu pergi meninggalkannya.
Yang dirasanya saat itu adalah rasa sakit disekujur tubuh. Mata kanannya memerah, dahi dan bawah mata kirinya robek. Sementara mulutunya nyonyor akibat dihujani pukulan.
"Aku tak tahu apa kawan-kawan yang berada dibelakang, melihat (saya dikeroyok). Soalnya mereka cukup jauh tinggal di belakang," ujar Hengky.
Putra, stringer Indosiar yang bersama Hengky berangkat, mengaku tidak sempat menjumpai Hengky dikeroyok. Sesampainya dia di SPBU Batu tiga, suasana memang ramai. Tapi, orang-orang yang mengeroyok Hengky telah pergi.
"Aku tertinggal jauh. Motorku tidak bisa mengejar. Aku tertinggal mulai dari Batu Delapan," kata Putra.
Usai mengalami kejadian tersebut, Hengky kemudian melaporkan kejadian yang dia alami ke Mapolsekta Bukit Bestari. Tak lama di sana, beberapa petugas intel, serta Polisi Militer dari Pangkalan Utama Angkatan Laut (Lantamal) Wilayah IV datang. Hengky, Ismail (operator SPBU), dan Udin Syamsudin (petugas sekuriti), dibawa petugas tersebut ke Markas POMAL di Jalan Merdeka, untuk dimintai keterangannya.
*Kejadian yang dialami Hengky bagi saya perlu dijadikan pembelajaran. Tidak menutup kemungkinan bagi saya, dan rekan-rekan jurnalis yang lain akan mengalami hal yang sama. Dia bisa jadi wartawan yang punya harapan mendapatkan pemberitaan yang bagus, gambar yang baik. Kejadian ini bisa menjadi guru untuk kita lebih berhati-hati damal bertugas. Dimana keselamatan diri adalah sesuatu yang tidak bisa dinafikan sesuatu hal yang penting. Dengan selamat, kita bisa menentukan langkah selanjutnya. Membuat laporan, tanpa mengalami cedera.
Kamis, 18 September 2008
Surat Untuk Anakku

Selamat Ulang Tahun Nak…
Setahun lalu, sebelum 19 September 2007, aku belumlah Abi (bapak dalam bahasa Arab). Kasih belum terbagi banyak. Nyaris semua untuk Ummi (Ibu). Setelah tanggal itu, semua berubah nak. Di hari itu kamu yang Abi beri nama Bintang Fajar Ramadhan, lahir. Status, suasana, berubah. Termasuk kasih Abi terhadap Ummi-mu.
Bintang…
Tak hanya kami ingin kau kelak menjadi terang, tinggi
Lebih dari itu, kami ingin kau juga menerangi apa yang ada disekitarmu
Meninggikan orang disekitarmu
Tak terasa menetes air mata ketika kau lahir
Bukan sekedar bangga nak..
Lebih dari itu, kami ingat dosa kami kepada kakek dan nenek mu
Begitu tergambar bagaimana wajah Ummi disaat berjuang melahirkanmu
Keringat berpeluh, wajah begitu padam menahan sakit
Begitu terbayang perasaan yang dirasa kedua orang tua kami dulu
Asa serta cita-cita untuk kami sejak itu terputus sudah
Asa dan cita-cita itu milik mu
Membesarkan mu, membuat kamu terang seperti nama mu…
Besarlah nak
Di usia setahunmu ini kamu sudah bisa berdiri
Kepandaian itu berkat usahamu
Kami hanya membimbing
Demikian untuk nanti-nati
Besarlah nak
Terang, menyongsong hidup, dengan kesucian serta ketulusan
Bintang Fajar Ramadhan
Selamat Ulang Tahun Nak (19 September 2008)
Tanjung Pinang
Minggu, 14 September 2008
Keputusan
Oleh Andri Mediansyah 
Gelap, bau alkohol, bau obat-batan. "Dimana aku?" Pertanyaan itu seketika muncul dalam pikiranku. Aku berusaha bangkit. Tapi, seketika tubuhku bergetar. Sakit di kepala ku terasa begitu nyeri. Ada perban membalut kepalaku. Hingga saat itu pun aku belum tahu apa sebenarnya yang terjadi kepadaku.
Dalam kegelapan itu, dalam remang pandanganku, muncul sosok tubuh dari balik pintu mengenakan pakaian serba putih. Dinyalakannya lampu yang mungkin sengaja diatur redup. "Jangan banyak gerak dulu," suara itu terasa lembut dan tenang.
Dia seorang wanita mengenakan seragam perawat. Aku baru sadar, aku berada di ruang perawatan rumah sakit. "Anda siang tadi diantar seseorang. Anda mengalami kecelakaan," katanya lagi.
Dalam nyeri kepalaku, aku mencoba mengingat apa yang terjadi. Siang tadi, diantar seseorang, kecelakaan? Pertanyaan-pertanyaan itu coba kujawab dengan usaha memutar memoriku pada peristiwa yang kulalui sebelumnya.
Setiap aku berfikir, setiap kali juga sedutan di kepalaku terasa menusuk. Tapi aku penasaran. Aku harus tahu dengan apa yang kualami. Lambat laun memoriku mulai beraksi. Seingatku, pagi tadi, ada pesan masuk melalui Hp-ku.
Iya, aku ingat. Pagi tadi aku menerima pesan. Lalu siapa yang mengirim pesan itu? Apa isinya? Kembali otakku kupaksa bekerja untuk mengingat. Sembari si perawat sibuk mengganti infus yang menancap di lengan kananku, otakku memberi sinyal kalau ia tak sanggup lagi bekerja. Hanya itu yang dapat kulakukan untuk mengingat apa yang sebenarnya terjadi. Aku tak sadar lagi.
Suara detak sepatu membangunkan membuat mataku spontan terbuka. Kini cahayanya tak gelap lagi. Ternyata hari telah pagi. Dari jam dinding yang terpajang di dinding ruangan, waktu itu menunjukkan jam tujuh. Kini kepalaku terasa tak berat lagi.
Aku mulai mengingat apa yang terjadi sebenarnya. Pesan yang sebelumnya ku ingat kuterima, dikirim oleh Imel. Dia teman kantorku. Kami punya hubungan yang dekat. Enam bulan berjalan kami saling mengenal. Sebetulnya ada hubungan khusus antara kami.
Aku terakhir berjumpa dengannya dua hari sebelum aku terbaring di rumah sakit. Kepadaku ia menyampaikan isi hatinya. Menyampaikan perasaan bahwa dia mencintaiku. Aku hanya tersenyum. Aku tak mampu menjawabnya. Kami pun bubar tanpa ada jawaban.
Di rumah, lama aku menimbang. Aku tak bisa membalas cintanya. Aku tak mungkin menghianati cinta yang selama ini telah dipersembahkan Manda kepadaku.
Kuingin ucapkan "a"
Tapi entahlah, sulit untuk mengucap itu
Padahal aku tahu yang kurasakan adalah "a"
Mungkin ada yang sangat butuh dengan "a" itu hingga menjadi lengkap suatu kalimat baginya
Padahal, sangat sulit apa yang telah tertulis dihati menjadi pudar
Apa mungkin "a" itu kurubah menjadi "b"
Apakah juga mungkin kubuat menjadi "a-a"
Ah, entah lah
Kukirimkan rangkaian kata yang kubuat itu melalui sms kepada Imel. Aku kemudian tidur, sembari memikirkan keputusan tersebut.
**************
Pagi-pagi sekali hp ku mendengarkan nada bahwa ada pesan yang masuk. Buru-buru ku buka. Ternyata pesan itu dari Imel. "Bang, aku sekarang di bandara. Maaf aku telah lancang. Aku akan segera berangkat ke Jakarta. Selamat tinggal."
Buru-buru ku raih jaket dan kunci motor diatas meja dekat pembaringanku. Sembari menimbang pesan bahwa pesan yang tadi malam kukirimkan adalah penyebanya, aku lajukan kendaraanku dengan kencang.
Semua kendaraan yang ada didepan semua coba ku potong. Sampai akhirnya, satu tak lolos. Ban belakang sepeda motorku menyenggol sebuah sedan yang coba ku salip. Aku terpental, tak sadar. Aku gagal tuk menjumpainya karena akhirnya aku berada di rumah sakit ini.

Gelap, bau alkohol, bau obat-batan. "Dimana aku?" Pertanyaan itu seketika muncul dalam pikiranku. Aku berusaha bangkit. Tapi, seketika tubuhku bergetar. Sakit di kepala ku terasa begitu nyeri. Ada perban membalut kepalaku. Hingga saat itu pun aku belum tahu apa sebenarnya yang terjadi kepadaku.
Dalam kegelapan itu, dalam remang pandanganku, muncul sosok tubuh dari balik pintu mengenakan pakaian serba putih. Dinyalakannya lampu yang mungkin sengaja diatur redup. "Jangan banyak gerak dulu," suara itu terasa lembut dan tenang.
Dia seorang wanita mengenakan seragam perawat. Aku baru sadar, aku berada di ruang perawatan rumah sakit. "Anda siang tadi diantar seseorang. Anda mengalami kecelakaan," katanya lagi.
Dalam nyeri kepalaku, aku mencoba mengingat apa yang terjadi. Siang tadi, diantar seseorang, kecelakaan? Pertanyaan-pertanyaan itu coba kujawab dengan usaha memutar memoriku pada peristiwa yang kulalui sebelumnya.
Setiap aku berfikir, setiap kali juga sedutan di kepalaku terasa menusuk. Tapi aku penasaran. Aku harus tahu dengan apa yang kualami. Lambat laun memoriku mulai beraksi. Seingatku, pagi tadi, ada pesan masuk melalui Hp-ku.
Iya, aku ingat. Pagi tadi aku menerima pesan. Lalu siapa yang mengirim pesan itu? Apa isinya? Kembali otakku kupaksa bekerja untuk mengingat. Sembari si perawat sibuk mengganti infus yang menancap di lengan kananku, otakku memberi sinyal kalau ia tak sanggup lagi bekerja. Hanya itu yang dapat kulakukan untuk mengingat apa yang sebenarnya terjadi. Aku tak sadar lagi.
Suara detak sepatu membangunkan membuat mataku spontan terbuka. Kini cahayanya tak gelap lagi. Ternyata hari telah pagi. Dari jam dinding yang terpajang di dinding ruangan, waktu itu menunjukkan jam tujuh. Kini kepalaku terasa tak berat lagi.
Aku mulai mengingat apa yang terjadi sebenarnya. Pesan yang sebelumnya ku ingat kuterima, dikirim oleh Imel. Dia teman kantorku. Kami punya hubungan yang dekat. Enam bulan berjalan kami saling mengenal. Sebetulnya ada hubungan khusus antara kami.
Aku terakhir berjumpa dengannya dua hari sebelum aku terbaring di rumah sakit. Kepadaku ia menyampaikan isi hatinya. Menyampaikan perasaan bahwa dia mencintaiku. Aku hanya tersenyum. Aku tak mampu menjawabnya. Kami pun bubar tanpa ada jawaban.
Di rumah, lama aku menimbang. Aku tak bisa membalas cintanya. Aku tak mungkin menghianati cinta yang selama ini telah dipersembahkan Manda kepadaku.
Kuingin ucapkan "a"
Tapi entahlah, sulit untuk mengucap itu
Padahal aku tahu yang kurasakan adalah "a"
Mungkin ada yang sangat butuh dengan "a" itu hingga menjadi lengkap suatu kalimat baginya
Padahal, sangat sulit apa yang telah tertulis dihati menjadi pudar
Apa mungkin "a" itu kurubah menjadi "b"
Apakah juga mungkin kubuat menjadi "a-a"
Ah, entah lah
Kukirimkan rangkaian kata yang kubuat itu melalui sms kepada Imel. Aku kemudian tidur, sembari memikirkan keputusan tersebut.
**************
Pagi-pagi sekali hp ku mendengarkan nada bahwa ada pesan yang masuk. Buru-buru ku buka. Ternyata pesan itu dari Imel. "Bang, aku sekarang di bandara. Maaf aku telah lancang. Aku akan segera berangkat ke Jakarta. Selamat tinggal."
Buru-buru ku raih jaket dan kunci motor diatas meja dekat pembaringanku. Sembari menimbang pesan bahwa pesan yang tadi malam kukirimkan adalah penyebanya, aku lajukan kendaraanku dengan kencang.
Semua kendaraan yang ada didepan semua coba ku potong. Sampai akhirnya, satu tak lolos. Ban belakang sepeda motorku menyenggol sebuah sedan yang coba ku salip. Aku terpental, tak sadar. Aku gagal tuk menjumpainya karena akhirnya aku berada di rumah sakit ini.
Sabtu, 13 September 2008
PN Kan Sidangkan Perkara Penghinaan LDII
BERITAKU: Dalam waktu dekat, Hazarullah Aswad, Ketua Forum Komunikasi Mushala dan Masjid (FKMM) Kota Tanjungpinang, akan didudukkan sebagai terdakwa di Pengadilan Negeri Tanjungpinang. Dia dianggap telah menghina dan mencemarkan nama baik Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII).
Penghinaan menurut LDII Kota Tanjungpinang itu disampaikan dalam acara interaktif di RRI Kota Tanjungpinang pada 3 November 2007 lalu. Dalam interaktif yang disiarkan secara langsung tersebut, Hazarullah mengatakan bahwa LDII adalah aliran sesat.
Menanggapi akan menjalani persidang atas kasus tersebut, Hazarullah berpendapat siap menghadapinya. Ia malah berterima kasih kepada penagak hukum (Kejaksaan dan Kepolisian), telah memproses laporan yang diberikan LDII Kota Tanjungpinang terhadapnya.
"Semakin cepat semakin bagus. Di persidangan nanti mari kita buka-bukaan," kata Hazarullah yang diketahui juga sebagai anggota Front Pembela Islam (FPI) Kota Tanjungpinang ini.
Menurut Hazarullah, pernyataannya yang dia lontarkan dalam acara interaktif itu sama sekali tidak dimaksudkan untuk menghina atau mencemarkan nama baik LDII, sesuai dengan pasal yang didakwakan kepadanya, yakni pasal 156 dan 130 KUHP.
"Saya sama sekali tidak bermaksud menhina atai mencemarkan nama baik LDDI. Saya hanya menyerukan agar LDII kembali ke jalan yang benar," katanya.
Disampaikannya juga, dasar dari pendapatnya LDII adalah sesat didasari atas enam referensi yang dia baca. Salah satunya adalah dari internet yang dia baca.
"Seharusnya, internet juga mereka (LDII Kota Tanjungpinang) laporkan," ujar Hazarullah.
Sebelum dirinya dilaporkan ke Polresta Tanjungpinang dalam perkara tersebut, Hazarullah mengaku telah berulang kali mengajak LDII Tanjungpinang, untuk berdialog secacara terbuka membahas masalah tersebut.
"Tapi mereka tidak mau," ujarnya lagi.
Jumat (12/9), Pengadilan Negeri Tanjungpinang menerima berkas pelimpahan perkara kasus tersebut dari Kejaksaan Negeri Tanjungpinang. Dakwaan dengan nomor PDM-286/TG.PIN/Ep.1/9/2008 itu tercantum dalam nomor registrasi 390/PID.B/2008/PHN.TPI. Kemarin, PN Tanjungpinang belum menetapkan jadwal serta siapa hakim yang akan menangani perkara tersebut.
Penghinaan menurut LDII Kota Tanjungpinang itu disampaikan dalam acara interaktif di RRI Kota Tanjungpinang pada 3 November 2007 lalu. Dalam interaktif yang disiarkan secara langsung tersebut, Hazarullah mengatakan bahwa LDII adalah aliran sesat.
Menanggapi akan menjalani persidang atas kasus tersebut, Hazarullah berpendapat siap menghadapinya. Ia malah berterima kasih kepada penagak hukum (Kejaksaan dan Kepolisian), telah memproses laporan yang diberikan LDII Kota Tanjungpinang terhadapnya.
"Semakin cepat semakin bagus. Di persidangan nanti mari kita buka-bukaan," kata Hazarullah yang diketahui juga sebagai anggota Front Pembela Islam (FPI) Kota Tanjungpinang ini.
Menurut Hazarullah, pernyataannya yang dia lontarkan dalam acara interaktif itu sama sekali tidak dimaksudkan untuk menghina atau mencemarkan nama baik LDII, sesuai dengan pasal yang didakwakan kepadanya, yakni pasal 156 dan 130 KUHP.
"Saya sama sekali tidak bermaksud menhina atai mencemarkan nama baik LDDI. Saya hanya menyerukan agar LDII kembali ke jalan yang benar," katanya.
Disampaikannya juga, dasar dari pendapatnya LDII adalah sesat didasari atas enam referensi yang dia baca. Salah satunya adalah dari internet yang dia baca.
"Seharusnya, internet juga mereka (LDII Kota Tanjungpinang) laporkan," ujar Hazarullah.
Sebelum dirinya dilaporkan ke Polresta Tanjungpinang dalam perkara tersebut, Hazarullah mengaku telah berulang kali mengajak LDII Tanjungpinang, untuk berdialog secacara terbuka membahas masalah tersebut.
"Tapi mereka tidak mau," ujarnya lagi.
Jumat (12/9), Pengadilan Negeri Tanjungpinang menerima berkas pelimpahan perkara kasus tersebut dari Kejaksaan Negeri Tanjungpinang. Dakwaan dengan nomor PDM-286/TG.PIN/Ep.1/9/2008 itu tercantum dalam nomor registrasi 390/PID.B/2008/PHN.TPI. Kemarin, PN Tanjungpinang belum menetapkan jadwal serta siapa hakim yang akan menangani perkara tersebut.
Bapak Gagahi Anak Tiri
BERITAKU: Biadab. Di Desa Malang Rapat, Kecamatan Gunung Kijang, Kabupaten Bintan, seorang bapak tega memperkosa anak tirinya sendiri. Tak terhitung berapa kali perbuatan itu dilakukan.
Perbuatan bejat sang bapak tiri itu terbongkar setelah korban sebut saja Tiara (14), mengadu kepada ibunya. Selama ini dia mengaku tidak berani buka mulut. Dia takut dengan ancaman sang Bapak tiri, Hendrianto alias Anto (30), akan membunuhnya jika sampai bercerita kepada siapapun.
Berdasar laporan yang diterima, polisi kemudian membekuk Anto pada Kamis (11/9) sekitar pukul 23.00 WIB. Ketika itu dia berada di Teluk Bakau, Bintan, kabur karena berselisih faham dengan istri korban.
Kapolsekta Gunung Kijang, AKP Jaswir, mewakili Kapolres Bintan, AKBP Yohanes Widodo, Jumat (12/9) kemarin mengatakan, pemerkosaan pertama kali dilakukan tersangka pada Desember 2007 lalu.
Di suatu malam di bulan tersebut, syahwat Anto meninggi ketika melihat Tiara yang sedang terlelap. Saat itu tidak ada orang lain selain mereka. Nr (49), ibu kandung Tiara, sedang di rawat di rumah sakit.
Terbawa nafsu setan tadi, Anto langsung membekap mulut Tiara. Remaja baru mekar itu tersentak. Dia berusaha melawan. Tapi, pada akhirnya dia tak dapat berbuat banyak. Anto mengancam, jika melawan, dia akan dibunuh.
Tiara takut dengan ancaman tersebut. Dia pun akhirnya pasrah. Perawan remaja putus sekolah itu hilang. Usai menggagahi, Anto kembali mengancam. Tiara jangan mengadu. Kalau dilakukan, akan dibunuh.
Rupanya, ketakutan Tiara akan ancaman, benar-benar dimanfaatkan Anto. Setiap ada kesempatan, perbuatan sama kembali dia lakukan. Demikian sampai berulang-ulang. Kepada polisi, si bapak tiri pemerkosa itu sudah tidak ingat lagi berapa kali Tiara dia gagahi.
"Tidak ingat," katanya seperti ditirukan AKP Jaswir.
Terhadap perbuatannya itu, Anto terancam kurungan 15 tahun penjara. Seperti disampaikan AKP Jaswir, dia dijerat dengan pasal 285 KUHP junto UU nomor 23 tahun 2004 tentang perlindungan anak.
Perbuatan bejat sang bapak tiri itu terbongkar setelah korban sebut saja Tiara (14), mengadu kepada ibunya. Selama ini dia mengaku tidak berani buka mulut. Dia takut dengan ancaman sang Bapak tiri, Hendrianto alias Anto (30), akan membunuhnya jika sampai bercerita kepada siapapun.
Berdasar laporan yang diterima, polisi kemudian membekuk Anto pada Kamis (11/9) sekitar pukul 23.00 WIB. Ketika itu dia berada di Teluk Bakau, Bintan, kabur karena berselisih faham dengan istri korban.
Kapolsekta Gunung Kijang, AKP Jaswir, mewakili Kapolres Bintan, AKBP Yohanes Widodo, Jumat (12/9) kemarin mengatakan, pemerkosaan pertama kali dilakukan tersangka pada Desember 2007 lalu.
Di suatu malam di bulan tersebut, syahwat Anto meninggi ketika melihat Tiara yang sedang terlelap. Saat itu tidak ada orang lain selain mereka. Nr (49), ibu kandung Tiara, sedang di rawat di rumah sakit.
Terbawa nafsu setan tadi, Anto langsung membekap mulut Tiara. Remaja baru mekar itu tersentak. Dia berusaha melawan. Tapi, pada akhirnya dia tak dapat berbuat banyak. Anto mengancam, jika melawan, dia akan dibunuh.
Tiara takut dengan ancaman tersebut. Dia pun akhirnya pasrah. Perawan remaja putus sekolah itu hilang. Usai menggagahi, Anto kembali mengancam. Tiara jangan mengadu. Kalau dilakukan, akan dibunuh.
Rupanya, ketakutan Tiara akan ancaman, benar-benar dimanfaatkan Anto. Setiap ada kesempatan, perbuatan sama kembali dia lakukan. Demikian sampai berulang-ulang. Kepada polisi, si bapak tiri pemerkosa itu sudah tidak ingat lagi berapa kali Tiara dia gagahi.
"Tidak ingat," katanya seperti ditirukan AKP Jaswir.
Terhadap perbuatannya itu, Anto terancam kurungan 15 tahun penjara. Seperti disampaikan AKP Jaswir, dia dijerat dengan pasal 285 KUHP junto UU nomor 23 tahun 2004 tentang perlindungan anak.
Langganan:
Postingan (Atom)


