
Tapi terang tak tau kemana arah
Burung tak lagi berkicau
Sawah kini sepi karena burung pemakan padi telah pulang ke sarang
Angin-angin kala itu kian kencang mengepakkan sayap…
Menerpa pohon, menggoyang dahan
Rambut usangku yang acak tersibak
Pori-pori menggeliat dingin
Tapi aku masih berdiri….
Berdiri di tengah sepi, tegak menatap hampa sunyi
Tak ku sadar hari kian gelap
Sebentar lagi akan gulita
Semestinya aku sudah duduk dekat peraduan ….
Memelintir tasbih, melafas ucapan suci
Tapi aku masih berdiri dalam gelap
Sesat menahan langkah
Bukan tak mau berjalan
Khianat membelengguku…
Sesat menyedot darah tobat
Menarik kerongkongan supaya aku tak bisa berucap astaghfirullah
Jantung dan hati hitamku yang melarang jangan kamu bermunajat
Organku jadi siluman, membuat pilihan berbuat dosa
Aku sekarat ingin pulang
Aku tak ingin berdiri di sini dimakan srigala hutan
Aku tak ingin daging tersayat nista
Biadab…..
Aku tak ingin hanya meratap diri
Aku ingin bertobat, kembali ke Tuhan dengan suciku
Ku berharap badai yang datang
Angin biasa tak ada guna
Awan… Menggumpallah engkau menghitam
Buatlah petir, sambarlah tubuh nistaku dengan kuasamu itu
Sadarkan aku dari lamunan pembawa petaka ini
Hancurkan, pecahkan bongkah batu yang mengerat ditelapakku
Gerakkanlah kakiku berjalan
Cepat…. Aku ingin pulang